Unknown
INI karya Kedua tentang BLACK ROSE. Tau kan pengertiannya Black Rose.
Author             : Khrisna (YonWon / Maybi)
Title                 : Black Rose
Genre              : Happy and Romcance
Warning!!
            Like Before or After read, No Bashing and COMENT please! Don’t be a Silent Reader. Thank You :*

Selamat MEMBACA. Enjoyed :D
(Cerita ini bersambung)


Terkadang apa yang kita LIHAT tak sepenuhnya  BENAR



“ANNEYOUNG  HASEYO”
Begitulah sapa ku terhadap teman-teman. Aku sudah terbiasa datang 5 menit sebelum bel tanda masuk berdering. Rasanya bangku sudah terisi penuh semua, kecuali bangku ku. Aku duduk di depan sebelahnya Sooyoung.
I know I cann’t smile without you, cann’t smile without you~~
Beginilah nada dering sekolah kami. Tak bersamangat. Malah membuat kami tambah galau, bagi kami yang sedang bermasalah dengan namanya cinta. Ringtone telah berbunyi dan saatnya bagi kami para siswa-siswi untuk melaksanakan pelajaran pertama.
“Eonni, apakah sekarang ada homework ? Aku kehilangan note ku saat pulang dari membantu eomma” aku rasa pertanyaan seperti ini sudah lazim dikalangan para pelajar. Pertanyaan yang pertama kalinya saat tiba disekolah.
“Anio Yoona. Ku rasa nasibmu lagi beruntung sekarang” jawab Sooyoung dengan asik memainkan jarinya pada I-phone 5 nya.
“Ne. Sepertinya aku memang anak yang beruntung” aku mulai mengeluarkan buku tentang Biologi. Dan tak sengaja penglihatanku tertuju pada seorang namja yang berada di deretan 2 dari bangku ku, dan pada baris ke tiga. Aigo!! Dia begitu ganteng pagi ini. Astaga!! apa yang aku pikirkan. #PLAK!!!.
“Eonni, apa yang kau lihat. Kau seperti melihat pangeran. Siapa yang kau lihat” Seohyun mulai memandang apa yang ku pandang dengan seksama.
“Aniyo!! Aku hanya melihat lukisan yang indah itu” aku segera memalingkan pandanganku. Jelas saja, aku tak ingin ada seorang yang tahu kalau aku menyukai seorang namja dikelas ku.
Jinjja?!!” matanya langsung menyelidik. “Bukan kah kau bilang begitu abstrak lukisan itu. Bahkan kau bilang matamu seperti kapal pecah melihatnya”
“Ne… Jinjja?!! Apakah aku bilang seperti itu, mungkin saja lukisan ini tampak begitu menarik pagi ini”
“Mwo?!! Mungkin kah sebuah lukisan dapat berubah. Kau ini aneh sekali. Kemarin begitu abstrak, sekarang menarik. Apa yang kau pikirkan!” wajahnya begitu kesal mendengar jawabanku.
“Mianhae, aku tak bermaksudmu membuat mu marah. Aku hanya baru mengerti tentang seni abstrak” terangku.
“What’s! Are you kidding me! Eonni itu bukan coretan abstrak, itu sebuah pemandangan dengan cat warna-warni”
“Mungkin karena pemilihan warnanya terlalu norak, makanya aku bilang abstrak. Hehehe”
“Gyaaa!!...” untung saja sebelum kata-kata mutiaranya keluar, sudah datang Ms. Taeyon guru  Biologiku.
“Anneyoung Haseyo!” salam Ms. Taeyon kami.
Kami serempak membalas juga “Anneyoung Haseyooo”
“Hmm! Hmm! Ku rasa tatapanmu tadi sangat tajam. Ku rasa ada yang kau cintai?” tanya Yesung yang sontak membuatku terkaget-kaget. Aigo! Siapa saja yang melihatku melihat seorang namja dengan begitu terpesonanya? Gerutu ku sekaligus ku mengutuk orang-orang yang melihatku tadi.
“Aniyo…Aniyo. Aku tak pernah mencintai seorang namja disini. Tak ada karakter yang masuk kategori calaon kekasihku” aku langsung menklarifikasi pertanyaan Yesung.
“Geuraeyo?!! Ayolah, aku sudah mengenalmu selama 2 tahun. Kau tak dapat mengelak lagi dari temanmu ini. Mulutku tak akan bochor” terangnya seperti meyakinkan.
Oh My God! Kau ini sangat ingin tahu tentang privasi orang” aku lantas memalingkan wajahku pada buku paket Biologiku.
“Haaaaa!! Kurasa pertanyaanku memang benar, kamu menyukai seorang namja. Tenang saja privasimu tak akan bochor dari mulutku” Jinjja? Kurasa tidak. Sebenarnya aku ingin menjawab seperti itu. Namun aku hanya mengiyakannya saja.
“Ne!” jawabku singkat yang tak ingin meladenkan lagi pertanyaannya Yesung.
Aku sangat serius mengikuti pelajaran Biologi. Walaupun bukan pelajaran kesukaanku, tapi pelajaran ini sudah masuk dalam UN. Bagaimana pun aku harus menyukainya.
Entah kenapa rasanya mata ku ini gak bisa di control. Selalu saja ingin melihat kearah seorang namja yang aku bicarakan tadi. Batinku sudah mulai goyah sepertinya. Kenapa aku selalu merasakan dia sedang menatapku. Aku sangat ingin memastikan kalimatku, namun aku tak sanggup melihatnya kalau dia benar-benar menatapku. Tidak! Harus ku pastikan kali ini. Aku lantas meyakinkan diriku. Tengukku berusaha ku putar ke kanan dengan perlahan-lahan. Tiba-tiba saja seorang yeoja mulai mengusikku.
“Eonni, boleh kah aku meminjam pulpen mu?” Gyaaaa!! Sunny ini merusak suasana sekali.
Langusng saja ku kembalikan tubuhku dari keadaan tegang keadaan yang lebih relax  “Ne, tentu saja. Ini” sambil kusodorkan pulpen pedy bear ke arahnya.
“Boleh aku pinjam satu lagi?” Wei? Apakah dia sanggup memakai dua pulpen sekaligus. Aku yang memakai satu saja tulisanku sudah seperti benang kusut.
“Buat apa? Kurasa satu saja sudah cukup kan?” ku menyodorkan pulpenku lagi.
“Buat Siwon oppa. Dia lupa bawa pulpen, jadi dia meminjam di aku”
HAH?!! Namja itu? Tapi mengapa dia meminjam pada seorang yang meminjam pulpen juga? Mungkin dunia sudah lama berputar dan menyebabkan orang-orang jadi pada bingung. Kenapa dia tak meminjam langsung kepadaku. Apakah dia malu. Jujur saja kami (Aku dan Siwon)  tak pernah banyak saling mengobrol, apa lagi saling menyapa. Itu semua karena aku sangat takut ketahuan kalau aku menyukainya saat didekatnya. Aku akan salah tingkah kalau dia berada disekitarku. Bagaimana pun aku suka dengannya, dan aku pun menghilangkan sifatku ini sejak lama. Tapi harus kah kali ini dalam hal meminjam ia juga seperti itu. Jangan-jangan ada something. #PLAK  mana mungkin.
“Kamshahamnida Yoona Eonni~”
“Cheonma~” balasku.
Semakin lama pelajaran Biologi ini semakin membosankan. Tapi tak disangka bel tanda istirahat sudah mulai berdering.
I want you…I need you…I love you~~
Sekarang lantunan lagu dari AKB 48 mulai menggema dari koridor sekolah. Dan rasanya lagu ini pas untuk mengambarkan suasana hatiku.
“Yoon, apakah kau ingin pergi makan?” ajak Yuri.
“Aku sudah mulai lapar nih. Perutku udah kompromi” seperti biasanya Tiffany selalu begitu saat ingin makan.
Me too. Perutku malah lebih parah, dia malah demo” ngikut deh Jessica.
“Anindeyo, aku nunggu kalian saja disini. Lagian aku bawa bekal dari rumah, aku juga lagi badmood buat ke kantin” jawabku.
Arasseoyo, yang penting aku sudah menwarkanmu” Yuri memaparkan lagi.
“Mianhamnida. Besok aku bakal pergi ke kanti sama kalian” aku langusung menunjukan senyumku.
“Algesseumnida. Aku makan duluan ya” Sunny melambaikan tangannya.
Aku pun kembali ke tempat duduk ku, dan mengambil bekal kimchi pedas-manis buatan eomma ku. Kebetulan juga aku melihat Sooyoung yang tumben dia tidak ikut pergi ke kantin. Aku langsung menanyakannya.
“Sooyoung, Waeyo?”
“Maksudmu?”
“Kau tidak pergi ke kantin dengan mereka?”
“Molla. Aku cuma nitip Aqua saja, lagian aku sudah membawa bekal dari rumah. Kaki ku juga sudah meronta-ronta naik-turun tangga”
“Hyoyeon juga kah? Aku tak melihatnya dari tadi” aku mulai memikirkan nasibnya Hyoyeon.
“Wei! Kau tak tahu kah? Dia kan kena tipes, kemarin”
“Jinjja?!! Kenapa aku tak tahu dia terkena tipes” langsung rawut wajahku syok.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu… Aku juga baru tahu gara-gara tadi pagi aku kerumahnya untuk mengembalikan buku Fisikanya, dan kebetulan aku diberi tahu oleh pembantunya…Tau lah sifatnya Hyoyeon itu gemana, dia sama sekali tak mau merepotkan orang lain. Padahal kita sudah seperti saudara, apa yang direpotkan. Aku malah sangat senang menjenguknya, apakah itu merepotkan?” tanyanya kesal.
“Yapss! Dia memang seperti itu. Dia kebalikan dari sifatku. Aku malah sangat senang di jenguk oleh orang, apalagi dibawakan buah-buahan. Ekmmm~~ Masisseoyo!” sambil memikirkan buah-buahan kesukaanku.
“Kau mah memang merepotkan. Sangat merepotkan”
“Aniyo~~ aku sama sekali tidak merepotkan ya. Aku tak pernah meminta seseorang untuk membawakan beraneka ragam buah untuk ku. Aku tak serepot itu” langsung ku lahap dengan ganas kimchiku.
“Tentu saja kau tak merepotkan, aku hanya bercanda” sambil cekikikan sendiri dengan telephone genggamnya.
“Rasanya kau terhipnotis dengan I-phone mu. Kau sama sekali tak memalingkan pandanganmu”
“Ne, aku memang terhipnotis dengan I-phone ku. Aku lagi chating dengan namja yang berada di kelas lain”
“Geuraeyo? Kenapa kau tak memberi tahu ku. Apakah yang lain tahu juga kau memiliki seorang boyfriend ?” Tanya ku dengan muka pingin tahu banget.
“Hanya kau saja yang belum tahu. Kau kan out of date banget” sindirnya.
“Aku tak separah itu! Aku hanya tak ingin mencampuri privasi seseorang” sambil melahap kimchi ku yang terakhir. “Siapa dia? Apakah kah dia dari kalangan anggota basket?’ tanyaku dengan mulut masih berlumuran kimchi.
“Aniyo, dia sama sekali tak mengikuti ekstra apapun. Dia tak mau merepotkan dirinya” terang dia seakan tak ada yang bisa memalingkan pandangan dari I-phone nya.
“Mengapa kita sekarang membahas tentang ‘repot-merepotkan’?  Kau ingin menyinggungku?” tanya ku bingung.
“Aish!” langsung disuapkan bekal yang ia bawa kemulutku.
“Glup!!”  aku hanya bisa menguyahnya saja. “Ehm! Masisseoyo~” dengan masih menguyah bekalnya.
“Mullonnijyo! My eomma” langsung saja dia mengancungkan jempolnya.
“Ne. Your eomma very-very awesome!” jawabku.
Saking senangnya kami mengobrol, sampai-sampai aku lupa merapikan kembali bangku ku.
            “Annyeong!!!~” teriak group kami (Seohyun, Sunny, Yuri, Jessica dan Tiffany)
            “Anyeong!~ kenapa kalian lama sekali! Bekalku sampai habis menunggu kalian belanja” saut ku.
            “Mianhae! Ini Jessica, dia ingin buang air kecil. Terpaksa kita musti nungguin” terang Tiffany.
            “Udah gitu celana kena air itu-nya lagi” Sunny mulai blakblakan.
            “ANIYOO~~~  itu bukan air seni yang kau maksud, air di bak gak sengaja jatuh ke rok ku” jelas Jessica dengan panic.
            “Bohong!!” serempak mereka mengatai Jessica.
            “Kalian kok gitu banget sama aku” jelas saja Jessica langsung menitikan air mata sambil menaikan cairan kental yang keluar dari hidungnya.
            “Gitu aja nangis, dasar cengeng” buly Tiffany. Tiffany memang seperti itu dengan Jessica. Aku hanya asyik menonton perdebatan mereka, sekalian ikut nge-buly juga.
            “Udah besar kok nangis sih, kembali ke PlayGroup aja muh!” tambahku.
            “Beli’in ballon cepet, biar gak nangis lagi” timpal Yuri.
            Tak terkira embun-embun dimatanya mulai menetes deras. Jessica semakin tersedu-sedu. Ramennya tak kuasa ia pegang, ia pun menaruhnya pada salah satu bangku yang dekat dengan dirinya. Melihat Jessica yang seperti itu kami pun mulai tersentuh dan menghentikan segala tindakan pem-buly-an. Jujur saja kami semua tak tega dengan melihat Jessica menangis. Tapi seperti ada rasa kepuasan dan kesenangan membuat ia menangis. Kami semua juga sudah berunding dan tak ingin menyakitinya, tapi dengan kepolosannya, nafsu kami tak bisa dibendung lagi.
            “Cup-cup baby” Tiffany sambil menepuk lembut pundaknya.
            “Honey don’t cry. You make my heart so worry” seru Yuri yang merangkul raganya. Aku hanya mengusapkan air matanya yang membekas di lesung pipinya. Tapi dia ia malah tambah menangis dengan isakannya, seakan kami berada di posisi serba salah. Dijailin nangis, dirayu malah tambah nangis.
            Kami telah berusaha menenangkan Jessica dengan sangat lembut, selembut salju. Jessica sifatnya memang sedikit kekanak-kanakan, tidak bisa dikerasin. Perasaannya sangat sensitive, bahkan kalau bertengkar dengan dia bisa-bisa satu minggu kita didiemin. Satu orang aja yang bermasalah dengannya, bisa semuanya kelibat. Namun dengan usai-nya yang mulai meranjak naik, sifat kekanak-kanakannya mulai berkurang. Dia sangat bisa diajak bercanda, dia orang yang paling menghibur setelahnya Tiffany. Jessica sangat polos, tapi tak sepolos Sunny. Menurut kami, orang-orang yang polos yang kami jailin akan menjadi atasan kami dan bisa menyadarkan bangsa ini.
            Usaha kami kali ini SUKSES! Hanya dalam waktu 7 menit, kami semua sudah membuatnya tenang. Kami pun langusng memakan ramen, kecuali aku dan Sooyoung. Dan sempat-sempat menyinggung masalah tadi yang akan kami buat sebagai lelucon agar Jessica tertawa, walau hanya sebatas senyuman. Sepercik kebaikan, yaitu senyumnya yang tadi menangis kini tertawa. Bisa membuat kami langsung memecahkan ruangan kelas kami dengan tertawa terbahak-bahak. Senyumnya bagaikan panorama yang dilukiskan oleh Maha Kuasa.
            Di sela-sela kerumunan kami yang sedang mengadakan pertunjukan comedy, aku mulai memfokuskan mataku ke arah seorang namja yang tak jauh dari kerumunan kami. Siwon, adalah namja yang kumaksud. Ia juga lagi berunding dengan groupnya. Sesekali melihat batang hidungnya saja sudah membuatku tenang. Berkhayal mendapakan dirinya tentulah tak mungkin. Dia begitu pintar, tubuhnya begitu atletis, attitude-nya apalagi. Dia sangat ramah terhadap semua orang. Tapi ia tak termasuk dalam kategori orang yang dicari oleh para kaum feminim, paling hanya beberapa wanita saja yang melihat dengan mata yang masih normal, ia memang tak termasuk dalam pangeran berjubah putih dengan menunggangi kuda putih atau bisa disebut dengan pangeran. Di kelas mungkin hanya aku saja yang menyukainya. Aku berharap ia adalah pendamping hidupku, akan tetapi asaku sepertinya sudah pupus. Dia tak pernah menampakan senyumnya, walau hanya sekali.
Tiba-tiba saja terdengar suara ringtone sekolah dengan alunannya Cannon D karangan Wolfgang Mozart.
“Pengumuman! Diumumkan untuk seluruh ketua-ketua kelas, kelas 12 untuk mengambil jadwal yang akan di UN kan pada ruang Perpustakan. Diulangi lagi sekali! Diumumkan untuk seluruh ketua-ketua kelas, kelas 12 untuk mengambil jadwal yang akan di UN kan pada ruang Perpustakan” begitulah isi pengumuman yang diumumkan oleh salah satu siswi.
Ketua kelas kami kebetulan ada pada group kami (Yuri). Yuri sangat dewasa diantara kami, dia bagaikan ayah dan ibu di kelompok ini. Bayangkan saja, kami semua tunduk padanya. Dari perempuan sampai laki-laki, dia lah penguasanya. Penguasa yang tak menguasai hak-hak dan kewajiban kami. Yuri memang terlihat tomboy.
Ketua-ketua kelas termasuk Yuri langsung saja ke perpustakan untuk mengambil dan membagikan jadwal test itu. Yuri ditemani oleh soulmate-nya Seuhyun. Ketika jadwal pelajaran UN dibagikan, kami syock setengah mati. Bayangkan saja Matematika hari rabu dan IPA hari kamis. Sebenarnya Jessica, Sunny dan aku hanya menyemarak ke syokan mereka. Aku hanya ikut-ikutan syock melihat jadwal ini, supaya di bilang sepenangungan. Memang begitulah persahabatan, duka dan suka harus dirasakan bersama-sama. Aku juga sih setuju-setuju saja kalau mereka pada jantungan. Tapi apa mau dikata, kecuali aku yang punya departemen pendidikan mungkin aku bakal masukin selang-seling dengan pelajaran menghapal dengan menghitung. Bahkan kalau bisa UN tak diadakan sama sekali.
Sejujurnya aku sudah berubah dari manusia yang kelam menjadi manusia yang baru, karena waktu itu nilai matematika mendapatkan 98. Bayangkan saja waktu aku masuk kelas 10 maupun 11, matematika mendapatkan Fa, Sol, La ( 3, 4 dan 5). Memang waktu itu masa-masa dimana waktu hanya dihabiskan untuk kesenangan yang tiada masa depan. Namun karena sebuah nilai, aku langsung berbuah 180o. Terkadang orang berubah karena sesuatu dulu, kalau belum terjadi sesuatu yang WOW maupaun dengan air mata, mereka tak akan bisa berubah. Aku bisa meresakan nilai itu dengan sangat bangganya, dari hasil jerih payahku sendiri. Ada juga faktor pendukungnya (itu udah so pasti), waktu itu pendukungnya adalah temanku sendiri. Mereka yang menyemangatiku, begitu juga dengan Siwon. Aku tak ingin terlihat bodoh dihadapannya. Apalagi guru yang sudah mengenali kita, pasti ada rasa canggung dan malu bila nilai kita hancur pada pelajarannya. Udah banyak nanyak kayak wartawan, eh ujung-ujungnya cuma dapat ‘angsa’ (5).
            Kita juga harus menyemangati dan memotivasi diri kita sendiri. Terkadang teman dekat maupun keluarga kita sendiri malah menjatuhkan kita. Sebaiknya kita jauhi sementara orang-orang yang menjatuhkan kita, agar tak goyah saat menggapai apa yang kita inginkan. Bahkan waktu itu keluargaku sendiri memojokan aku dan membanding-bangdingkan dengan orang-orang yang berhasil dengan perekonomian yang minim. Jelas saja kupingku waktu itu panas sekali. Siapa yang tak kesal digitukan. Selalu dibanding-bandingkan. Orang tuaku juga kesal jika aku membandingkan mereka dengan orang tua lainnya. Aku juga sudah bisa menebak apa yang akan mereka jawab. “Kalau kamu udah gak betah disini, meding kamu keluar aja. Muh ketetangga sebelah siapa tau dia mau nerima anak kayak kamu” pasti tak jauh begini lah jawabannya. Orang tua ku juga pernah marah karena aku tak seperti mereka (orang-orang yang mendapatkan peringkat pertama atau juara kelas). Seakan aku ingin membalas seperti ini kepada orang tuaku.
            “Kenapa ayah dan ibu hanya sebatas menjadi pengangkut barang dan menjadi seorang penjual kimchi. Liat saja orang-orang yang waktu itu perekonomian dibawah ayah dan ibu. Kenapa mereka bisa menjadi seorang direktur, doctor, dan masih banyak lagi. Kenapa ibu tak bisa seperti mereka yang tak melakukan perkerjaan kasar?” aku yakin 100% kalau aku menanyak hal itu orang tua ku bakal skak mat. Tapi jika aku menanyak hal itu, 100% juga aku mendapatkan sesuatu yang bakal melayang-layang terbang kearah ku. Terang saja aku tak ingin mendapatkan cap sandal jepit pada wajahku.
            Akhirnya aku dapat membuktikan kepada orang tuaku, walaupun aku tak dapat predikat ranking satu atau juara kelas setidaknya dengan memegang peringkat ke-5 itu sudah membuatku bangga. Bisa dilukiskan aku sedang mendapatkan batu lonjakan atau tahap awal untuk mencapai kesuksesaskan di bidang akademis. Sejujurnya pelajaran kelas 10 dan 11 aku mulai mengerti pada saat kelas 12. Telat banget kan. Tapi dengan kerja keras dan ingin membuktikan kepada orang tuaku, aku berusaha mengambil kembali buku kelas 10 dan 11 untuk dipelajari sendiri. alhasil, alah bisa karena biasa. Akhirnya aku dapat mengerti dengan materi yang kuanggap susah kala itu ternyata sangat gampang. Walaupun perjuangan tak segampang dengan apa yang ku tuliskan namun hasilnya akan lebih dari apa yang ku katakan. Hidup kita harus diperjuangan, kalau bukan kita siapa yang akan memperjuangkannya. Nasib baik dan buruk biarlah Tuhan yang tentukan, tapi usaha dan pengorbanan harus kita lakukan. Kita tidak merancang untuk gagal, melainkan mereka gagal untuk merancang. Seperti itulah kata Seuhyun yang tentu saja mengutip perkataannya William J. Siegel.
            Waktu sudah semakin siang saja. Guru datang silih berganti, sesuai dengna jadwal yang ditetapkan oleh kepala sekolah. Kegaduhan dan ketenangan  tercampur aduk ketika pergantian pelajaran akan tiba. Seakan ini sudah menjadi kodrat para siswa-siswi di sekolah manapun, maupun angkatan apapun. Bel tanda akhir dari pelajaran dan perjuangan kami hari ini telah di dendangkan dalam sebuah ringtone sekolah. Ringtone-nya adalah Sayonara.
            Sayo…nara, sayo…nara sampai berjumpa pulang~
            “Aku luan ya!” seru Sunny.
            “Aku juga, aku musti pulang cepet nih. Entar uang jajan besok gak cair kalau gak cepet-cepet pulang buat ganti’in ava twitter mamaku” nyeletuk Tiffany dengan kocaknya. Memang beginilah sifatnya; lucu, enak diajak bicara, sebagai pembangkit semangat dan pembuat kegaduhan saat kita lagi bosan-bosannya kalau pelajaran berlangsung.
            “Wuahahahhahah” sontak saja kami semua tertawa terguling-guling mendengar pernyataan dari Tiffany. “Ya Fan, hati-hati. Ingat ya kalau udah cair traktirannya. Aku tunggu di J.CO yau!” tambah si Seuhyun.
            “OH ya! Kita gak jenguk Hyeyeon nih di rumah sakit. Kasihan dia kena tipes” teriak Sooyoung membuat suasanya menjadi hening Krik…Krik.
            “…”
            “Waduh!  Kalian kira aku nih lagi teriak-teriak jual kacang rebus apa!” Sooyoung mulai kesal.
            “Kok bisa?”
            “Beneran?”
            “Seriusan?”
            “Demi apa?”
“Sumpah?”
Ini lah pertanyaan ketidakpastian kami yang ditujukan pada Sooyoung. Seketika juga semua langsung ribut memikirkan nasibnya Hyeyeon. Ia sama sekali tidak memberi tahu kami. Untung saja ada Sooyoung.
            “Ica dums, enelan, ciyusan, miapapah, cumaph deh!” jawab Sooyoung sekalian.
            “Idiih Sooyoung sok imut banget. Timpok sepatu aja gih” teriak Yuri.
            “Duh kasihan banget Hyoyeon. Kapan kita mau jenguk! Mending besok aja ya?” Jessica menyarankan.
            “Ya mendingan besok aja. Tugas hari ini banyak banget, malah pada deadline semua kayaknya” aku juga ikut menyerukan.
            “Oh ya-ya” Seuhyun menyetujuiku.
            “Ya udah kalau gitu besok aja. Tapi ingat ya, besok harus bawa uang minimal Rp. 5.000 untuk beli buah buat Hyoyeon” terang Sooyoung.
            “Harus lah, dia loh udah baik sama kita. Masak kita jenguk cuma bawa tangan kosong” Yuri mendukung peryataan Sooyoung.
            “Bener tuh harus” Jessica, Tiffany, Sunny, Seuhyun dan aku langsung setuju.
            “Oke! Semua udah setuju, kita berangkat sehabis pulang sekolah aja” kata Sooyoung.
            “Sip Bos” saut kami dengan kompak.
            Kami langsung pulang kerumah kami masing-masing. Hanya aku saja yang memakai sepeda gayung ke sekolah. Untung saja sepedanya ada keranjang dan tempat goncengnya. Ada elite-nya dikit. Setelah pulang dari sekolah aku harus ke SMP adik ku. Aku tak mungkin langsung balik kerumah, dari SMP adiku kerumah begitu jauh, bahkan sampai 5 KM. kebetulan SMU ke SMP adiku satu jalur. Dari SMU ke SMP adiku hanya membutuhkan waktu setengan jam untuk sampai kesana. Untung saja tanjakan disini tak sebanyak dan tak begitu melangit.
            Kayuh demi kayuhan aku gerakan pedal sepedaku. Capek jelas, belum lagi menggonceng adik ku. Bisa dibayangkan betapa capeknya. Namun demi meringankan beban orang tua ku sekaligus berbakti. Why not.
Setibanya ku disana aku harus menunggu lagi. Dia sedang mengikuti bimbel, jadi aku harus menunggu 15 menit lagi. Ku isi kekosongan waktu agar tidak bosan dan tak terbuang sia-sia. Pelajaran yang tadi dibahas kubaca lagi, tidak hanya itu. Aku juga menyempatkan menuliskan diary-ku yang sudah penuh seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Tettt…tettt~ bel SMP telah di bunyikan.
Ini waktunya tuk menyiapkan dan merapikan barang-barang yang ku keluarkan. Ku istirahatkan badan ku pada tempat duduk sepeda, sekaligus memfokuskan mata tuk melihat batang hidungnya. Kerumunan orang yang memakai seragam putih dan bawahan hijau garis-garis membuat ku gelagapan mencari. Terlintas dalam pikiranku untuk memasang plang namaku yang berukuran 40x40 cm biar terlihat jelas oleh adik ku. Tiba-tiba saja dari belakang aku telah dikagetkan oleh seorang pria yang begitu kerasnya menepuk pundak ku.
“Autss! Bisa kah tuk tidak memukul bahuku. Aku tak kaget, aku kesakitan karena pukulanmu yang menyakitkan. Auhhh!” ku memijat pundak ku.
“Maaf cece” sambil membantu memijat bahuku. Rasanya begitu enak saat dipijat oleh orang lain dari pada diri sendiri. Memang! Kalau orang lain yang memijat kita tak membuntuhkan tenaga apapun. Hanya diam dan merasakan kenikmatan dari kelembutan dan rasa tenang. “Cece kita jadi kerumah nenek kan?” tanyanya sambil menghentikan pijatannya.
“O iya, kenapa kau baru bilang! Cepat naik, cepat. Entar nenek ke buru tidur” langsung kusuruh ia naik dan mengambil tasnya untuk ditaruh pada keranjang depan sepedaku.
“Baik cece, tapi entar mampir ke kiosnya Hyuun Soo. Aku mau beli cupcake buat nenek” pinta adik ku yang telah menduduki kursi goncengnya. Aku langsung mengkayuh dengan sekuat tenaga. Bahkan pada pertama kayuhan aku harus keliatan seperti orang ngeden. Eghhh!! Begitu lah suara yang ku keluarkan. Namun seiring perjalanan kayuhan itu sudah mulai ringan.
Seperti biasa saat di suasana seperti ini, aku menghibur diriku sendiri dengan lagu yang ku alunkan dari bibirku. Aku melantukan lagu ‘Leaving on a Jet Plane’. Adik ku juga mengikuti alunan yang ku dendangkan, malah ia juga bernyanyi sambil memakai gaya. Sehingga sepedaku sempat oleng.
♫  Leaving On A Jet Plane  ♫
All my bags are packed I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin' it's early morn
The taxi's waitin' he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh baby, I hate to go


c   |   d

Nenek tinggal di panti Jompo dekat rumahku. Hanya butuh 10 menit dari rumahku jika berjalan kaki. Disana nenek selalu bersikap baik kepada teman-temannya (kalangan manula). Ada salah satu orang yang masih muda (umurnya sekitar 40-45 tahun) selalu memeras nenek kami. Siapa yang tidak marah. Bagaimana kami tidak marah, uang yang nenek berikan kepada kami juga ikut berkurang. Lagian perilaku orang itu (orang yang memeras nenek) kerjanya hanya berjudi. Ia hanya berkerja sebagai pencuci piring di kios dekat panti jompo. Aku belum pernah menegurnya untuk tak memeras nenek kami, karena kami masih terlalu dini. Begitu lah pikiran ku. Aku juga sering mengutarakan kepada nenek, tapi nenek hanya bilang “Kita harus saling berbagi dengan orang yang kurang mampu”. Dalam hati aku berkata. Kurang mampu? Kurang usaha gak! Dasar orang yang pengennya instant aja buat ngedapetin duit.
Sesampainya di depan pintu panti Jompo.
“Dek, kenapa kau beli rasa strawberry? Nenek kan gak suka” tanya ku padanya.
“Ini bukan untuk nenek” jawabnya sambil melihat-lihat cupcakenya.
“Loh! Terus untuk siapa? Udah gitu kenapa beli banyak banget! Pasti kami pakai uang tabunganmu yah?” sambil memasang alat pengunci sepedaku.
“Yang strawberry untuk cece. Terus yang blueberry untuk nenenk. Sisanya buat para penghuni panti jompo” sembari menyimpulkan bibirnya.
Setelah ku mendengar perkataannya, terlintas di benak ku. Kenapa adik ku begitu dermawan. Ku rasa nenek telah menghipnotisnya. “Terus uangnya, kau dapat dari mana?” ku tegaskan perkataanku.
“Oh! Aku abis dari menjajakan makanan di sekolahku. Eh ternyata laku semua”
“Jajan? Kau buat sendiri?” spon-tan saja aku penasaran. Aku sendiri bahkan tak bisa memasak roti, kenapa ia bisa.
“Eksperesinya jangan hiperbola gitu dong. Aku membantu menjajakan jajannya ibu di sekolah. Harganya aku naikan sedikit”
Aku sebagai seorang kakak merasa iri. Se-usianya ia sudah dapat mengurangi beban keluarga kami. Sejujurnya aku sangat malu bila melakukan perkerjaan yang di lakoni adik ku. Bagaimana tidak, SMU ku dari kalangan berada sedangkan kan adik ku di SMP negeri yang bernotabenekan dari kalangan yang kurang mampu. Aku memang lebih mementingkan martabatku disekolah, bahkan untuk masuk ke SMU saja aku harus mengikuti jalur beasiswa tuk bisa bersekolah di SMU favorit. Ini memang sebuah kebanggaan. “Kau tak malu?” tanya ku dengan haru.
“Malu!! Cece tidak lihat muka ku ini, apakah muka ini menunjukan muka yang malu?” sambil menyodorkan kepalanya yang kecil.
“Tidak lah, malah sebaliknya. Kau tampak begitu senang. Tapi tampangmu itu jujur?”
“Ya jujur lah!” jawabnya tegas.
“Yakin kau tak malu?”
“Malas ah, cerewet banget nih cece. Kalau aku malu bagaimana bisa aku melanjutkan sekolah” ditunjukan wajah bangganya.
“Maksudmu kau sudah melakukan perkerjaan ini dari dulu, bahkan saat kau masih kelas satu?”
“Tidak sedulu itu, tapi dari kelas satu aku sudah membantu ibu menajajakan jajannya di sekitar rumah. Kalau yang disekolah sejak aku kelas 2. Cece tidak tahu?”
Aku hanya menggelengkan kepala saja, tak sangka ia melakukan hal sejauh itu. Raganya saja yang masih kecil, tapi pikirannya sudah seperti orang dewasa.
“O iya, cece kan sibuk manggung sana-sini, udah gitu menjadi waiter di salah satu restaurant besar kan!” Kurasa ia menyindirku. Seakan-akan aku seperti orang yang pulang hanya 1 tahun sekali.
“Bukan restaurant besar, itu hanya kios sup iga yang ramai pengunjungnya saja. Juga’an aku tak berkerja dari pagi sampai pagi. Paling lama sampai jam 9 tepat udah pulang. Kalau manggung cuma sabtu minggu, itu pun dari jam 7 malah sampai jam 10” aku menerangkannya seperinci mungkin.
“Terus kenapa cece tidak tahu kalau aku sudah lama melakoni pekerjaan ini (Berjualan jajan)” Matanya kian menyelidik.
“Mungkin karena aku sibuk mengurus kehidupanku jadi tak peduli dengan kehidupan orang lain.  Tapi aku selalu memerhatikanmu di rumah, aku kira kau keluar untuk berkerja kelompok dengan temanmu. Eh ternyata!” aku hanya senyum kecil sambil menyuruhnya masuk. “Lebih baik kita masuk saja dulu, dan mengobrol di kamarnya nenek”

c   |   d
Panti jompo ini hanya tingkat dua, kamarnya seperti kamar rumah sakit swasta, pengurusnya cukup ramah. Seiring kami menyusuri, aku sempat-sempatnya mengambil perman mint gratis di salah satu toples. Bau mulut haruslah harum ketika menemui orang yang kita sayangi. Mengambil dua perman mint dan memakannya sekaligus, biar harumnya extra wangi. Kami melihat nenek sedang memandang di deket jendela, tepatnya jendela ditempat tamu-tamu duduk. Ia hanya memandang transportasi yang lewat kesana kemari. Kami berdua sepakat dan lantas menghampiriya tuk ingin membuat surprise tentang kedatangan kami.
“NENEEEK!!” kami berteriak  sembari merangkulnya erat-erat, tapi nenek sama sekali tak terkejut. Ia malah tersenyum lebar. Ishh nenek gak seru banget. Begitulah gerutuku.
“Ingin membuat surprise ya?” tanyanya seperti orang yang bisa membaca pikiran.
“Loh! Kok nenek bisa tahu? Wah-wah jangan-jangan nenek punya ilmu membaca pikiran ya!! Ayo nenek ajarin aku, aku ingin membaca pikiran seseorang” aku langsung menebak dan merayu-rayunya dengan semanis-seiumut mungkin.
“Dasar cucu nenek, emang nenek dulu mantan paranormal ya?” seraya menepuk kepalaku.
“Kalau gitu kok nenek bisa tau rencana kami? Oh aku tau, nenek si pembaca rencana ya?” kata adik ku.
GUBRAK!! Seakan aku ingin menjatuhkan diriku ke tanah. Nenek kemudian menjawabnya. “Nenek liat kalian sedang menuju kesini sambil membawa oleh-oleh buat nenek. Nenek liat dari sini” sambil memandang jendela yang langsung tertuju pada jalan raya.
“Oh iya-iya. Nenek sebenarnya aku ingin membelikan nenenk sesuatu, tapi karena Ryewook (Nama adik ku) sudah membelikannya, jadi aku gak usah beli lagi. Soalnya takut nenek entar kekenyangan” begitulah alibi ku.
“Iya kah?!!” matanya langsung sipit dan dahinya mulai mengkerut, seakan ia tak percaya.
“Beneran kok. Liat nih wajah cece, masak cece bohong sama kamu” ku tunjukan tampang jujurku. Dan berkata dalam hati. Kalau kau sampai percaya, mungkin aku bisa menjadi seorang artis.
Bukannya di perhatikan wajahku yang serius membentuk tampang jujur, eh malah dapet jitakan darinya. TAK!! “Aku bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi. Lagian tampangnya cece kayak orang lagi ngeden” sindri Ryewook.
Sial. Seburuk itu kah tampangku. “Baiklah, kau memang benar. Nenek Ryewook membawakan cupcake kesukaan nenek. Cupcake rasa blueberry loh!” langsung kusodorkan tubuhnya Ryewook yang sedang membawa kresek berisikan cupcake.
Suara ku yang lantang pun didengar oleh penghuni panti jompo. Aku yang telah mengetahui sifat penghuni ini mulai terusik. Untung saja Ryewook sudah membeli beberapa cupcake untuk mereka. Gila banget kalau kita membelikan nenek cupcake sedangkan yang lainya tidak. Bisa-bisa nenek malah memberikan kepada mereka, bukannya diberikan setengah malah semua. Padahal mereka sudah tahu kalau kami dari keluarga yang kurang mampu. Keluarganya mereka juga tak jauh-jauh amat dari sini.
Mereka seakan sudah mulai mengambil ancang-ancang. Memang tak semua penghuni seperti itu, ada juga beberapa yang baik kepada kami maupun nenek. Tapi hanya beberapa, taulah beberapa itu seberapa. Beberapa dari 10 penghuni panti jompo tersebut.
Cupcake rasa blueberry dikasihkan oleh Ryewook kepada nenek. Aku juga membisikan Ryewook tuk memberikan kepada orang-orang disini termasuk cupcake yang seharusnya menjadi milik ku. Ia pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan. “Cece yakin, ini kan cupcake kesukaan cece. Kita juga hanya beberapa bulan sekali dapat membeli cupcake ini. Biar punya ku saja yang kuberikan kepada para manula disini” begitulah katanya. Aku sangat tersentuh dengan perkataan dari adik ku sendiri. Adik ku Ryewook memang hatinya seperti seorang malaikat yang dijatuhkan untuk ku berserta seluruh penghuni Bumi. Aku pun meyakinkan perkataan Ryewook.
“Baiklah, tapi cupcake ku akan ku bagi bersamamu. Aku tak ingin yang membelikan tak ikut menikmati” ku mulai merayunya.
Dia pun sedikit  ingin menolak tapi aku berusaha menyakinkannya. Ku naik-turunkan alisku agar ia mau menerimanya. Ku eluskan lenganku ke benaknya, dan akhirnya hatinya pun mulai luluh. Yes!! Akhirnya aku bisa melunturkan hati bajanya. “Tampangmu gak usah seperti orang yang keberatan, aku iklhlas kok ngasihnya. Lagian ini punyamu kan” sambil membantunya memegang keresek yang ia bawa.
Nenek yang mendengarkan obrolan kami juga menyutujui kalau aku membagi cupcake ku padanya. “Ryewook lihat lah cecemu. Nenek tahu perasaanmu, kau ingin memberikan seutuhnya kan. Tapi cecemu juga ingin kau menikmatinya, ia juga sama ikhlasnya sepertimu. Jadi terimalah penawaran cecemu”
Nenek sangat tahu tentang isi hatiku. Mungkin karena aku sering curhat dengannya. “Iya Ryewook, cece ikhlas kok” kusimpulkan bibirku.
Ia hanya melemparkan senyumnya, dan bertanda ia juga menyetujuinya. Nenek pun membuka suara lagi “Wah cupcakenya banyak sekali. Kau ingin membagikannya ya?” tanya nenek pada Ryewook.
“Iya nek. Ini lagi mau dibagikan” jawabnya. Aku hanya mengangguk mengiyakannya saja.
“Baguslah, ternyata cucu-cucu nenek ini mempunya rasa kemanusian yang tinggi. Kalian tahu kenapa nenek selalu membagikan bekal yang kalian kasih. Lihatlah  mereka” sembari kami memandang seisi ruangan, lalu nenek melanjutkannya lagi. “Kebanyakan dari mereka dilantarkan oleh keluarganya, ada juga yang dijenguk hanya pada hari raya imlek saja. Bahkan ada yang 3 tahun sekali karena anaknya berkerja di kapal pesiar. Apakah cucu-cucu nenek ini tahu rasa yang mereka alami?”
Aku hanya menggeleng-geleng saja karena aku belum pernah di telantarkan oleh orang lain. Terus adik ku hanya mengganguk tahu. “Aku tahu bagaimana rasanya nek. Rasanya itu seperti diabaikan oleh orang yang kita sayangi dan seperti dibunuh oleh rasa kerinduan dan ketidakpastian. Bahkan yang lebih parah aku pernah merasakan sesak pada dadaku karena aku ditelantarkan oleh seseorang. Dan otak ku tarasa pening sekali”
“Wah ada yang cintanya bertepuk sebelah tangan nih. Hahahaha” aku hanya tertawa mendengar kalimatnya.
“Cucu nenek yang paling ganteng ini sudah tahu tentang cinta-cinta ya” nenek mencium pipinya Ryewook dan melanjutkan ceritanya yang penuh makna “Kita sesama manusia harus lah saling memberi dan membagi, maupaun itu berupa barang atau kasih sayang. Karena nenek disini sudah mendapatkan kasih sayang  dan perhatian penuh dari cucu nenek, jadi nenek membaginya kepada yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Ketahuilah Ryewook, Yoona mungkin kita dalam memenuhi kebetuhan sehari-hari saja masih kurang. Tapi apakah kekurangan itu menutupi rasa kemanusiaan kita terhadap sesama yang lebih membutuhkan daripada kita. Walaupun lapar tapi ada rasa kepuasan yang sangat berarti saat kita memberikan kepada seseorang yang lebih membutuhkan”
Aku hanya terdiam sambil merenungkannya. Terus terang saja aku juga ingin berbagi tapi ada saja kebetuhan yang harus ku penuhi. Akan tetapi setelah mendengarakan perkataan dari nenek hatiku mulai terbuka lebar. Dan kami pun membagi-bagikan cupcake kepada para penghuni. Kali ini terlihat orang yang memeras nenek datang kepada nenek saat kami lagi sibuk membagi-bagikan cupcake kepada seluruh penghuni panti. Aku yang melihat pria itu yang sedang merayu nenek lantas ku hampiri. Pertama aku hanya melintas saja sambil mendengar percakapan mereka. Beberapa menit kemudian, dia menyinggung masalah uang yang menimpanya. Aku hanya dapat mendengar pertengahannya saja “Gaji ku bulan ini ludes dialahap pencuri, aku bahkan belum sempat memakainya untuk biaya makanku hari ini” sambil meneteskan air mata kepalsuan dilajutkannya lagi “Aku juga harus membiayayai anak ku tuk dibelikan susu…boleh kah aku pinjam Rp. 250.000 saja” pintanya, yang membuat kepalaku semakin memanas. Tanpa basa-basi aku mulai melontarkan kata-kata mutiaraku.
“Dasar pembual. Kau hanya memakainya untuk berjudi kan, tak usah bohong. Aku sudah melihatmu beberapa kali datang ketempat judi. Dan aku juga mendengar kalau uangmu diembat sama pencuri. Kurasa bukan pencuri yang berwujud manusia yang mencuri uangmu, melainkan berwujud iblis yang berada dalam dirimu yang telah mencuri uangmu berserta kehidupanmu. Iblis itu telah menghasutmu kedalam dunia gelap” langsung saja aku menghampiri nenek dan membawanya menjauh. “Ayo nek kita keluar, aku sudah muak melihat orang ini, yang tak kunjung tobat” tapi nenek menahan tubuhnya sekejap dan mengeluarkan isi sakunya.
“Ini ambil lah. Tak usah dipedulikan perkataan cucuku. Pakailah bersenang-senang, Hidup ini hanya sekali. Oh ya, jangan lupa berikan kepada istrimu juga” disodorkan uangnya.
“Nenek, jadi nenek yang menghasutnya untuk berbuat seperti ini” kata ku lantang.
Nenek malah tidak mempedulikan perkataanku melainkan ia masih berkata dengan pria pembual itu. “Bukan kah kau ingin menjadi seorang poker yang hebat, ini ambil lah lagi 50.000 dan jadilah poker yang hebat”
“NENEK!!!” bentak ku padanya.
Tapi ia lagi tak mempedulikan perkataanku, bahkan tubuhku sampai ditahan olehnya. Nenek benar-benar sudah tidak waras. Masih aja mengasih uang itu padanya. Nenek terlalu dermawan. Haddeh.
Pria itu langsung mengambil uang yang berada ditangan nenek dengan berat hati dan berat tangan. Aku tahu pria itu sangat malu saat aku berusaha menasehatinya. Sampai-sampai ia lupa mengucapkan terimakasih dan pelan-pelan meninggalkan kami. Dasar orang penjudi, etikanya memang selalu jauh di berada di garis kebaikan.
“Nenek ngasih uang ya sama pria tadi. Kok dikasih nek, ngapain dikasih orang kayak begitu. Kerjanya cuma berjudi aja” adik ku Ryewook  juga melontarkan perkataan yang sama percis yang ku katakan pada nenek tadi.
“Kalian tahu, dia pernah curhat sama nenek kalau dia ingin menjadi juara poker dan menjadi guru pembimbing poker untuk seluruh dunia. Nenek tak ingin harapannya kandas, bahkan ia sama sekali tak punya keluarga. Apakah kalian tak mengerti?” bela nenek terhadap pria tadi.
“Gemana mau menjadi juara poker, main sama orang-orang kios aja kalah” sindir ku.
“Mungkin perkataan cucu nenek yang cantik ini ada benarnya juga, tapi nenek percaya dan ia juga percaya bahwa dengan berusaha terus menerus ia akan menjadi juara poker internasional” suara nenek begitu meyakinkan dan menggebu-gebu.
“Ya, ya semoga aja amin” nadaku memang sedikit menyindir. “Nek aku harus pulang nih, ada jadwal manggung nanti malam, ayo Ryewook kita pulang” sambil mengecuk pipi nenek.
“Baik cece. Dada nenek” tak lupa juga Ryewook mengucapnya. “Nek besok kami kesini lagi ya”
Seraya kami kerluar dari panti jompo kami sudah didampingi keluar oleh para manula yang menghantarkan kami keluar sambil memberi angpao. Dengan penuh senyum dan kelembutan mereka menghantar kami keluar, aku pun tersadar aku enaknya saling memberi dan membagi. Ada sesuatu kepuasan batin yang terjadi. Mereka sangat baik terhadapku, bahkan sampai memberikan angpao. Tapi aku menolak angpao yang diberikan kepada ku, lebih baik tulus memberi. Pantas saja nenek selalu damai dan tentram disana, semua orang begitu membaikannya. Tapi apakah kebaikan itu juga tulus? Tiba-tiba saja kata-kata itu terbesit dibenakku. Ah ngapain juga dipirkan, mau tulus mau tidak yang penting aku sudah baik dengan nya dan itu tulus dari lubuh hatiku. Syukur-syukur kalau orang itu tulus, tapi kalau tidak ya tetap bersyukur juga. Lebih baik menimbun kebaikan dari menimbun dosa.


c   |   d
Jam sudah menunjukan pukul 6 WITA. Aku masih tertidur karena capek membuat perkerjaan rumah dan abis dari tempatnya nenek buat berbagi kebaikan dengan semangkok adonan roti yaitu cupcake. Hari ini aku manggung di suatu restaurant sup iga yang terletak pada jantung kota. Aku harus bergegas agar tak terjebak dari kemacetan. Mandi itu sudah wajib dan sedikit memakan makanan yang berkabohidrat seperti roti plus omelet.
“Ibu aku mau konser dulu yah. Rotinya udah kumaka” teriak ku kehadapan ruang tamu. Maklum kamar dirumah ku pisah-pisah.
“Hati-hati, kalau habis konser langsung pulang jangan keluyuran kayak anak racing” peringat ibu.
“Ya bu” jawabku singkat. Dalam hati aku berkata. Gak keluyuran kok, cuma nebeng di taman kota aja sebentar buat manjain mata lihat cowo-cowo ganteng, siapa tahu ada yang nyantol satu.
Aku yang hanya bermodal dua puluh ribu, langsung ku mulai kehidupan ‘malam’ku. Yang jelas bukan malan yang negative. Hanya konser mega bintang yang harus kuhadiri. Aku harus naik busway dari halte yang cukup dekat dari rumahku sampai ke restaurant sup iga yang terletak dipusat kota. Nasib baik menghapiri ku, selama perjalanan aku sama sekali tak terjebak dalam kemacetan. Aku juga mulai melihat panorama kerlap-kerlip lampu warna-warni dan orang-orang yang memakai dress maupun celana jeans berlalu lalang dijalan raya. Memang seperti ini lah dunia malam. Tapi bukan malam diatas jam 12 malam.
Akhirnya sampai juga ditempat tujuan, bukan di restaruantnya tapi di halte tujuan busway ini. Aku harus berjalan kaki lagi selama 5 menit ke utara dan sampailah aku pada restaurantnya. Dengan mempersiapkan suara emasku.
Restaurant kali ini sangat ramai pengunjung. Bahkan naik 20% pengunjungnya. Nyaliku sedikit ciut. Bayangkan saja orang yang hadir sekarang memakai dress dan jazz diamana-mana. Sedangkan aku hanya memakai baju  kemeja lengan pendek berserta jeans panjang hadia sweet seventeenku. Kurasa hanya aku yang tak sesuai mekakai tema pakian malam ini. Langsung saja aku menghampiri menager restaurant ini.
“Permasa pak menager” begitu lah sapaku padanya.
“Ehm, ada apa Yoona?” tanyanya sambil merapikan jazznya.
“Kok aku tidak diberitahu kalau temanya hari ini memakai dress dan jazz?”
“Tenang saja, pakian yang kau sebutkan tadi hanya untuk para pengunjung”
“Tapi aku kan malu, kok aku malah tampil beda sendiri. Bawahanmu juga pada memakai jazz”
“Sudah ku bilang kau tak perlu khawatir, tenang saja. Percayalah pada pak menager” ia pun berusaha meyakinkan ku. Aku hanya mengiyakannya.
Untung saja lagu yang kubawakan kali ini setidaknya pas lah pada tema hari ini. Temanya itu ‘Harmony kenikmatan’. Lagu pertama yang aku nyanyikan adalah “I belive I can Fly”. Pada lagu pertama yang aku bawakan, aku begitu semangat dengan di iringi alunun piano dan gesekan biola yang lembut. Seakan aku terjatuh karena alunannya berserta melodinya.
Lagu pertama sudah selesai ku nyanyikan kini saat nya untuk lagu yang kedua. Aku memilih lagu ‘I cann’t smile without You’ karangan dari Barry Manilow lagu yang pernah dialunkan di SMU tadi. Dan aku nyanyikannya untuk mengungkapkan isi hatiku. Iringan piano pertama memaikan intronya lalu disambung dengan iringan biola. Dan yang terakhir aku langsugn menyanyikannya.
You know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you

You came along just like a song
And brighten my day
Who would have believed that you where part of a dream
Now it all seems light years away

And now you know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when your sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile
Aku yang asik menyanyi dan melihat-lihat pengunjung, tiba-tiba saja aku terpaku pada seseorang. Seseorang pria yang aku sukai di kelas. Dia memang selalu terlihat menawan dihadapanku. Jazz hitam yang ia pakai menambah daya tariknya. Aku luntur dibuatnya. Aku merasa heran untuk apa dia tiba-tiba dateng kesini. Dan bagian terakhir  ku nyanyikan dengan begitu lembut.
I just can't smile without youuuuuuuuu~~
Lega rasanya setelah melantunkannya. Dan perasaanku semakin tegang, tegang level tinggi. Kehadirannya yang secara tiba-tiba membuatku mati kutu dihadapannya. Aku langsung menuruni panggung sambil mengganti profesiku menjadi seorang waiter. Pakianku ku ganti.
Tak beberapa berselang setelah aku mengantikan pakianku menjadi seorang pelayan, tiba-tiba saja pintu ruang ganti digetok oleh seseorang. Aku lalu membukanya, “Udah selesai kan mengganti pakianmu. Sekarang tolong antarkan sup ini ke meja nomer 8 disana” ternyata menagerku yang membawakan sup iganya dan menunjuk arah yang tidak jelas antar ujung dan tengah. Aku hanya mengiyakannya saja, karena takut menanyakannya lagi. Entar malah aku dibilang orang yang tidak mengerti, tapi aku memang tidak mengerti. Takut saja di cap seperti itu.
Jalan, jalan, jalan dan jalan. Meja demi meja telah ku lewati hingga sampainya aku didket meja nomer 8 yang diperintahkan oleh sang menager. Ku hampiri meja itu dan akhirnya aku syok setengah mati mendapatkan Siwon berserta keluargnya duduk disana. Tubuhku dingin dan begitu ringan sampai-sampai aku mau jatuh. Sekujur tubuh sudah bergetar, keringat juga sudah mulai bercucuran, dan langkahku sudah mulai beku. Kupastikan lagi nomer yang berada pada mejanya dengan nomer yang berada pada sup ini. Sepertinya pengharapkanku tak sesuai, ternyata benar itu nomernya. Mati-matilah aku. begitulah gerutuku sambil memaksa kaki tuk berjalan dan tak lupa juga senyumku.
“Permisi, ini sup iganya sudah siap” ku sapa dengan caraku sendiri dan ku hidangkan satu-persatu kea rah keluarganya, tepat saat aku menghidungkan sup untuk Siwon, ia bertanya padaku.
“Kau Yoona kan?” ia bertanya memastikan. Spontan saja aku kaget setengah mati dan menjatuhkan supnya hingga membasahi jazznya. Apa yang aku lakukan, bisa-bisa bos memecatku, Oh tidak- oh tidak. Begitulah gerutu sambil mengelapkan jazz-nya. Salahnya dia juga mengagetkanku. Astaga apa yang harus kulakukan kali ini. Aku semakin panic dalam pikiranku.
“Auggh!!” dia teriak kepanasan, wajar saja supnya juga baru dikelarkan dari wajan.
“Kau tidak apa-apa sudah biar aku lap. Maafkan aku, maafkan aku” sambil mengulang perkataan maafku.
Tapi keluarganya malah menyudutkan ku. “Kau ini tidak bisa menjadi pelayan yang benar ya! Begini ya yang diajarkan oleh Menager mu?!!” bentak ibunya yang kemudian diiringi dengan kedatangan menagerku.
“Maaf kan anak buahku nyonya, aku yakin ia tak bermaksud menjatuhkannya. Kami akan bertanggung jawab atas kejadian ini” belanya. Tapi ia akan ngomel kesal saat kami tiba di belakang (dapur).
Aku hanya terdiam dan tak terasa air mataku mulau jatuh. Ingin sekali ku usapkan tapi aku malu dan rasanya itu seperti patung dihadapan keluarganya. Siwon pun melihat aku mulai menangis, dan memberikan saputangannya yang ditaruh dalam saku celanaku. Sial! Kenapa ia bisa tahu ya? Aduh bisa-bisa aku jadu bahan olokan disekolah ni. Begitulah perkataanku dalam hati.
Pak Menager kemudia menyuruhku tuk menunggu dibelakang. Udah sesuai dengan perkiraanku. “Yoona kau duluan saja” dan itu berarti tuk memaki ku saat dibelakang dan melihat pembalasannya.
“Baik pak” langsung aku pergi kebelakang. Mampus dah aku nih.
Aku yang melihat omgongan mereka dari jendela dapur semakin membuatku takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Sudah kuperkirakan aku akan dipecat dari sini dengan tanpa gaji.
10 menit sudah berlalu dan pak Menager sudah kembali. Aku hanya bengong dan menungguinya sampai ia berkata duluan.
“Yoon maafkan aku. Aku tahu kau begitu menyesal tapi ini sudah berlalu. Dan bagaimana pun aku harus memerpertanggung jawabkannya” setelah ia mengomong seperti itu dan aku langsung tahu apa akhir kejadian ini.
“Aku memang pantas dipecat, maaf aku tak bisa menjalani dengan baik” dengan masih mengisakan air mata.
“Kenapa kau berfikir kau akan dipecat, tadi itu hanya lah kesalahan kecil saja. Bahkan korbannya tak ingin minta pertanggung jawaban. Ia juga memaksa keluarganya tuk tidak menyalahkanmu. Ia juga berkata kalau ia (Siwon) yang salah, karena telah mengagetkanmu” terangnya.
Dalam hati aku bersyukur kepada Tuhanku dan berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada Siwon, karena dia pintu rupiahku jadi tetap mengalir. “Benarkah?!!” tanya ku semakin memastikan.
“Ia benar” jawabnya dengan penuh kepastian juga.
            “Terimakasih Tuhan, terimakasih” sambil bersujud dan jungkrak-jugnkrik kegirangan mendengar jawaban dari Pak Menager.
Kelar juga pekerjaanku dan masalah mala mini. Fyuuh, untung saja Siwon mau mengerti dengan keadaanku. Aku langsung keluar dan tak lupa juga mengambil gaji ku di Pak Menager yang baik hati.
“Ini gajimu hari ini. Hitunglah dulu” suruh Pak Menager.
“Ah tak usah, jugaan pasti akan pas nih uangnya” sambil beranjak keluar lewat pintu belakang dan melambaikan tangan pada Pak Menager “Bye Pak, sampai ketemu besok.”
Aku langsung menuju keluar dari restaurant ini dan menuju halte untuk melanjutkan rencanaku selanjutnya. Belum juga sampai dihalte sudah ada yang memanggil namaku. Dengan sigap aku menoleh kearah suara itu. Pasti Pak Menager lagi.
“Yoona maafkan aku” suara Pria yang seumuran denganku mulai membuat bulu tengukku berdiri. Siwon ada didepan mataku. Astaga mungkinkah ini mimpi. Aku langsung mencubit pipiku dengan keras, tapi aku malah merasakan sakit yang begitu menyakitkan sampai ia menghentikan cubitanku.
“Yoon! Kau sedang melakukan apa. Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?” sambil merebut tanganku tuk menghentikan cubitanku.
“Aku kira ini mimpi. Upss!!” langsung saja kututp mulutku.
“Maksudmu?” tanyanya heran.
“Oh tidak-tidak, kau jangan berpikiran seperti itu dulu. Aku hanya tak menyangka saja aku melihatmu disini. Kau kan telah menyelamatkan ku tadi, aku kira kau sedikit gengsi saat ketemu denganku” lansung aku mencari alibi yang bagus.
“Oh, ku kira” wajahnya sedikit kecewa, entah karena apa. “Aku sama sekali tak gengsi bertemu denganmu Yoon, aku malah senang” ia langsung melengkungkan senyumnya.
“Benarkah! Aku sama sekali tak mengira kau sangat senang bertemu denganku. Tadi malah aku ketakutan banget berpapasan denganmu. Sumpah!!” sambil menunjukan kelingking ku.
Wajahnya tambah murung, entah karena apa. “Siwon kau tidak apa-apa? Apakah kau sakit. Aku sangat khawatir kalau kau sakit”
“Oh tidak apa-apa kok, malah aku sehat walafiat sekarang” katanya dengan penuh gairah.
Hah? Kok dia aneh ya. Pertama murung eh tiba-tiba langsung bersemangat. “Baguslah, kalau begitu aku tak perlu mengkhawatirkanmu. Kau tak pulang dengan keluargamu?”
“Oh gitu ya! Aku menyuruh mereka tuk pulang duluan” jawabnya lagi dengan nada resah.
“Siwon kau tidak apa-apa, atau apakah kau kecewa dengan jawabanku?” tanyaku penasaran.
“Oh tidak kok”
Perasaanmu mulai campur aduk, aku bisa melihat dari wajahnya kalau dia sama sekali tidak puas dengan jawabanku. Langsung saja aku membujuk untuk mengikuti rencanaku. “Kau ingin pergi ketaman kota, aku ingin melihat-lihat otang bergembira disana” rayuku.
“Baiklah, pasti akan mengasikkan”
“Iyalah, malah jadi sangat mengasikkan sekali” tambahku. Kami pun langsung menuju halte yang bertujuan ketaman kota. Kami sempat mengobrol di busyway yang membawa kami ke taman kota. Aku yang memulai membuka obrolan. “Kenapa kau mencariku? Aku kan sudah minta maaf. Jangan-jangan kau ingin lebih ya?” tanya ku dengan penuh canda.
“Aku tak serakus itu. Aku juga tak sejahat itu, aku hanya ingin mengakhiri malam minggu dengan seseorang” katanya sambil malu-malu.
Aku semakain optimis kalau dia benar-benar menyukaiku. Mulailah aku memancing pertanyaan untuk mengungkapkan isi hatinya. “Mengakhiri dengan seseorang, bukan kah kau tadi sudah mengakhirinya dengan keluargamu?”
“Aku bilang seseorang bukan beberapa orang”
Wah dia sangat hebat sekali mengalihkan pertanyaanku. “Kalau begitu kenapa kau memlihku untuk mengakhiri malam minggumu?” aku sangat yakin kali ini iya akan mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.
“Karena kau satu-satunya teman yang terakhir aku lihat”
“Hah?!!Haruskah aku. Bukan kau bisa mengajak sahabatmu. Kenapa harus aku? Oh tidak-tidak aku tahu jawabanmu” dengan frontal aku menanyainya langsung “Jangan-jangan kau mempunyai persaan kepadaku ya?”
“Ehmmm…ehmmmm” dia pun mulai sedikit memikir.
#Kiiiiitttt suara belokan sang supir busway yang menikuk tajam kearah taman kota yang sudah mulai dekat, membawa seluruh badanku terjatuh kedalam tubuhnya. Untung saja ia dengan sigap menangkap tubuhku.
“Hah…ehh…hah…ehh” nafasku kian tak teratur telah selamat dari maut. Aku juga membalas pelukannya dengan erat malah dengan erat sekali.
“Kau tidak apa-apa?” ia menanyai dengan penuh kekhawatiran dan kecemasan.
“He’eh” aku hanya dapat menjawab dengan singkat dan nafasku masih tak teratur. Tubuhku sangat kaku.
Siwon masih memelukku dengan begitu erat. Aku seperti tersambar petir di malam bolong. Aku tak merasakan badanku lagi. Rohku seperti telah meninggalkan jiwaku. Bibirku ingin berkata. Apakah kau tidak apa-apa. Tapi mau bagaimana lagi, kejadian tadi membuat spot jantung, aku sudah tak mempunya tenaga lagi untuk bergerak apalagi bersuara.
Siwon membawa ku keluar dari busway, dengan menggendongku. “Siwon aku sangat takut. Aku benar-benar takut” dengan mulut yang bergetar aku menyampaikannya.
“Aku tahu, lebih baik kau pulang dulu. Aku akan memanggil taksi” sambil menaruh badanku pada sebuah kursi dekat taman kota.
“Siwon ku mohon jangan tinggalkan aku sendiri” pintaku. “Aku sangat takut”
“Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Kita akan menunggu taksi disini saja”
Kami berdua melihat sang supir lagi sibuk memperbaiki mesinnya, dan para penumpang sudah turun duluan. Tinggal kami berdua. Iya, hanya kami berdua yang tersisa. Dengan masih mencari-cari mobil taksi yang mungkin datang kearah kami. Untunglah nasib baik ku tak habis. Tak lama sopir taksi datang. Siwon tak lagi menggendongku, tapi merangkulku karena aku sudah mulai bisa berjalan. Ia membawa tubuhku menuju kedalam taksi itu.
“Terimakasih siwon. Entah berapa banyak hutang budi yang harus kubayar padamu” kuhelakan nafasku di akhir kalimat.
“…” dia hanya diam tak menjawab pertanyaanku. Mungkin ia masih syok, sama sepertiku.
Aku yang lelah akan malam ini memutuskan untuk beristirahat di mobil taksi ini. Tak peduli aku mau senderkan diamana kepalaku yang penting aku dapat tidur. Blak! Kepalaku bersandar pada bahunya, ia juga meyandarkan kepalanya di kepalaku. Aku yang sudah mulai menutupkan mata, kemudian merasakan jemariku perlahan digenggam oleh jemarinya. Kepalaku sangat relax bersandar pada pundaknya. Tak lama kemudian akhirnya aku langsung tertidur.
            Tin…tin… bel taksi membangunkan ku yang masih setengah sadar. Aku yang bangun duluan dan  mendapati Siwon yang masih tertidur segera ku bangunkan.
            “Siwon, siwon. Kita sudah sampai. Siwon, siwon” sambil ku guling-gulingkan badannya. Dan akhirnya ia terbangun juga.
            “Dimana ini?” tanya ya yang masih di alam bawah sadar.
            “Ini dirumahku”
            “HAH!!” dia langsung mengucek-ngucek matanya dan segara bangun.
            “Terimakasih ya sudah menghantarkanku” sambil kutunjukan wajah gembira ku di balik kaca. “O ya, taksinya juga sudah kubayarkan, anggap saja ini sebagai balasanku yang terkecil”
            Langsung dibuka kaca mobil taksi tersebut. “Oh sama-sama, ngomong-ngomong ini di jalan apa?” tanya nya.
            “Jangan banyak tanya lagi, kau sangat lelah hari ini. Aku tak ingin kau sakit. Bye-bye” langsung saja kukecupkan bibirku pada wajahnya. Dan dengan senyum kecil dan malu aku langsung berlari menuju kamarku. Ku lihat dari balik pagar, ia hanya melolongo sambil menatap kearahku. Sungguh malam yang melelahkan dan sangat indah. Kalau kehidupan malam seperti ini, aku akan terus melakoninya. Dan langsung saja kutidurkan badanku pada kasur didalam kamarku.



0 Responses

Posting Komentar