INI
karya Kedua tentang BLACK ROSE. Tau kan pengertiannya Black Rose.
Author : Khrisna (YonWon / Maybi)
Title : Black Rose
Genre : Happy and Romcance
Warning!!
Like Before or After read, No Bashing and COMENT please! Don’t be a Silent Reader. Thank You :*
Like Before or After read, No Bashing and COMENT please! Don’t be a Silent Reader. Thank You :*
Selamat
MEMBACA. Enjoyed :D
(Cerita
ini bersambung)
Terkadang apa yang kita LIHAT tak sepenuhnya BENAR
“ANNEYOUNG
HASEYO”
Begitulah
sapa ku terhadap teman-teman. Aku sudah terbiasa datang 5 menit sebelum bel
tanda masuk berdering. Rasanya bangku sudah terisi penuh semua, kecuali bangku
ku. Aku duduk di depan sebelahnya Sooyoung.
I
know I cann’t smile without you, cann’t smile without you~~
Beginilah
nada dering sekolah kami. Tak bersamangat. Malah membuat kami tambah galau, bagi
kami yang sedang bermasalah dengan namanya cinta. Ringtone telah berbunyi dan
saatnya bagi kami para siswa-siswi untuk melaksanakan pelajaran pertama.
“Eonni,
apakah sekarang ada homework ? Aku
kehilangan note ku saat pulang dari
membantu eomma” aku rasa pertanyaan seperti ini sudah lazim dikalangan para
pelajar. Pertanyaan yang pertama kalinya saat tiba disekolah.
“Anio
Yoona. Ku rasa nasibmu lagi beruntung sekarang” jawab Sooyoung dengan asik
memainkan jarinya pada I-phone 5 nya.
“Ne.
Sepertinya aku memang anak yang beruntung” aku mulai mengeluarkan buku tentang
Biologi. Dan tak sengaja penglihatanku tertuju pada seorang namja yang berada
di deretan 2 dari bangku ku, dan pada baris ke tiga. Aigo!! Dia begitu ganteng
pagi ini. Astaga!! apa yang aku pikirkan. #PLAK!!!.
“Eonni,
apa yang kau lihat. Kau seperti melihat pangeran. Siapa yang kau lihat” Seohyun
mulai memandang apa yang ku pandang dengan seksama.
“Aniyo!!
Aku hanya melihat lukisan yang indah itu” aku segera memalingkan pandanganku.
Jelas saja, aku tak ingin ada seorang yang tahu kalau aku menyukai seorang
namja dikelas ku.
“Jinjja?!!” matanya langsung menyelidik.
“Bukan kah kau bilang begitu abstrak lukisan itu. Bahkan kau bilang matamu
seperti kapal pecah melihatnya”
“Ne… Jinjja?!! Apakah aku bilang seperti itu, mungkin
saja lukisan ini tampak begitu menarik pagi ini”
“Mwo?!! Mungkin kah sebuah lukisan dapat
berubah. Kau ini aneh sekali. Kemarin begitu abstrak, sekarang menarik. Apa
yang kau pikirkan!” wajahnya begitu kesal mendengar jawabanku.
“Mianhae, aku tak bermaksudmu membuat mu marah.
Aku hanya baru mengerti tentang seni abstrak” terangku.
“What’s! Are you kidding me! Eonni itu bukan
coretan abstrak, itu sebuah pemandangan dengan cat warna-warni”
“Mungkin karena pemilihan warnanya terlalu
norak, makanya aku bilang abstrak. Hehehe”
“Gyaaa!!...” untung saja sebelum kata-kata mutiaranya
keluar, sudah datang Ms. Taeyon guru
Biologiku.
“Anneyoung Haseyo!” salam Ms. Taeyon kami.
Kami serempak membalas juga “Anneyoung
Haseyooo”
“Hmm! Hmm! Ku rasa tatapanmu tadi sangat tajam.
Ku rasa ada yang kau cintai?” tanya Yesung yang sontak membuatku
terkaget-kaget. Aigo! Siapa saja yang melihatku melihat seorang namja dengan
begitu terpesonanya? Gerutu ku sekaligus ku mengutuk orang-orang yang melihatku
tadi.
“Aniyo…Aniyo.
Aku tak pernah mencintai seorang namja disini. Tak ada karakter yang masuk kategori
calaon kekasihku” aku langsung menklarifikasi pertanyaan Yesung.
“Geuraeyo?!!
Ayolah, aku sudah mengenalmu selama 2 tahun. Kau tak dapat mengelak lagi dari
temanmu ini. Mulutku tak akan bochor” terangnya seperti meyakinkan.
“Oh My God! Kau ini sangat ingin tahu
tentang privasi orang” aku lantas memalingkan wajahku pada buku paket
Biologiku.
“Haaaaa!! Kurasa
pertanyaanku memang benar, kamu menyukai seorang namja. Tenang saja privasimu
tak akan bochor dari mulutku” Jinjja? Kurasa tidak. Sebenarnya aku ingin
menjawab seperti itu. Namun aku hanya mengiyakannya saja.
“Ne!” jawabku
singkat yang tak ingin meladenkan lagi pertanyaannya Yesung.
Aku sangat
serius mengikuti pelajaran Biologi. Walaupun bukan pelajaran kesukaanku, tapi
pelajaran ini sudah masuk dalam UN. Bagaimana pun aku harus menyukainya.
Entah kenapa rasanya
mata ku ini gak bisa di control. Selalu saja ingin melihat kearah seorang namja
yang aku bicarakan tadi. Batinku sudah mulai goyah sepertinya. Kenapa aku
selalu merasakan dia sedang menatapku. Aku sangat ingin memastikan kalimatku,
namun aku tak sanggup melihatnya kalau dia benar-benar menatapku. Tidak! Harus
ku pastikan kali ini. Aku lantas meyakinkan diriku. Tengukku berusaha ku putar
ke kanan dengan perlahan-lahan. Tiba-tiba saja seorang yeoja mulai mengusikku.
“Eonni, boleh
kah aku meminjam pulpen mu?” Gyaaaa!! Sunny ini merusak suasana sekali.
Langusng saja ku
kembalikan tubuhku dari keadaan tegang keadaan yang lebih relax “Ne, tentu saja. Ini”
sambil kusodorkan pulpen pedy bear ke arahnya.
“Boleh aku
pinjam satu lagi?” Wei? Apakah dia sanggup memakai dua pulpen sekaligus. Aku
yang memakai satu saja tulisanku sudah seperti benang kusut.
“Buat apa? Kurasa
satu saja sudah cukup kan?” ku menyodorkan pulpenku lagi.
“Buat Siwon
oppa. Dia lupa bawa pulpen, jadi dia meminjam di aku”
HAH?!! Namja
itu? Tapi mengapa dia meminjam pada seorang yang meminjam pulpen juga? Mungkin
dunia sudah lama berputar dan menyebabkan orang-orang jadi pada bingung. Kenapa
dia tak meminjam langsung kepadaku. Apakah dia malu. Jujur saja kami (Aku dan
Siwon) tak pernah banyak saling mengobrol,
apa lagi saling menyapa. Itu semua karena aku sangat takut ketahuan kalau aku
menyukainya saat didekatnya. Aku akan salah tingkah kalau dia berada
disekitarku. Bagaimana pun aku suka dengannya, dan aku pun menghilangkan
sifatku ini sejak lama. Tapi harus kah kali ini dalam hal meminjam ia juga
seperti itu. Jangan-jangan ada something.
#PLAK mana mungkin.
“Kamshahamnida
Yoona Eonni~”
“Cheonma~”
balasku.
Semakin lama
pelajaran Biologi ini semakin membosankan. Tapi tak disangka bel tanda
istirahat sudah mulai berdering.
I want you…I
need you…I love you~~
Sekarang
lantunan lagu dari AKB 48 mulai menggema dari koridor sekolah. Dan rasanya lagu
ini pas untuk mengambarkan suasana hatiku.
“Yoon, apakah
kau ingin pergi makan?” ajak Yuri.
“Aku sudah mulai
lapar nih. Perutku udah kompromi” seperti biasanya Tiffany selalu begitu saat
ingin makan.
“Me too. Perutku malah lebih parah, dia
malah demo” ngikut deh Jessica.
“Anindeyo, aku
nunggu kalian saja disini. Lagian aku bawa bekal dari rumah, aku juga lagi badmood buat ke kantin” jawabku.
“Arasseoyo, yang penting aku sudah menwarkanmu” Yuri
memaparkan lagi.
“Mianhamnida.
Besok aku bakal pergi ke kanti sama kalian” aku langusung menunjukan senyumku.
“Algesseumnida.
Aku makan duluan ya” Sunny melambaikan tangannya.
Aku
pun kembali ke tempat duduk ku, dan mengambil bekal kimchi pedas-manis buatan
eomma ku. Kebetulan juga aku melihat Sooyoung yang tumben dia tidak ikut pergi
ke kantin. Aku langsung menanyakannya.
“Sooyoung,
Waeyo?”
“Maksudmu?”
“Kau
tidak pergi ke kantin dengan mereka?”
“Molla.
Aku cuma nitip Aqua saja, lagian aku sudah membawa bekal dari rumah. Kaki ku
juga sudah meronta-ronta naik-turun tangga”
“Hyoyeon
juga kah? Aku tak melihatnya dari tadi” aku mulai memikirkan nasibnya Hyoyeon.
“Wei!
Kau tak tahu kah? Dia kan kena tipes, kemarin”
“Jinjja?!!
Kenapa aku tak tahu dia terkena tipes” langsung rawut wajahku syok.
“Sebenarnya
aku juga tidak tahu… Aku juga baru tahu gara-gara tadi pagi aku kerumahnya
untuk mengembalikan buku Fisikanya, dan kebetulan aku diberi tahu oleh
pembantunya…Tau lah sifatnya Hyoyeon itu gemana, dia sama sekali tak mau
merepotkan orang lain. Padahal kita sudah seperti saudara, apa yang direpotkan.
Aku malah sangat senang menjenguknya, apakah itu merepotkan?” tanyanya kesal.
“Yapss!
Dia memang seperti itu. Dia kebalikan dari sifatku. Aku malah sangat senang di
jenguk oleh orang, apalagi dibawakan buah-buahan. Ekmmm~~ Masisseoyo!” sambil
memikirkan buah-buahan kesukaanku.
“Kau
mah memang merepotkan. Sangat merepotkan”
“Aniyo~~
aku sama sekali tidak merepotkan ya. Aku tak pernah meminta seseorang untuk
membawakan beraneka ragam buah untuk ku. Aku tak serepot itu” langsung ku lahap
dengan ganas kimchiku.
“Tentu
saja kau tak merepotkan, aku hanya bercanda” sambil cekikikan sendiri dengan
telephone genggamnya.
“Rasanya
kau terhipnotis dengan I-phone mu. Kau sama sekali tak memalingkan pandanganmu”
“Ne,
aku memang terhipnotis dengan I-phone ku. Aku lagi chating dengan namja yang
berada di kelas lain”
“Geuraeyo?
Kenapa kau tak memberi tahu ku. Apakah yang lain tahu juga kau memiliki seorang
boyfriend ?” Tanya ku dengan muka pingin
tahu banget.
“Hanya
kau saja yang belum tahu. Kau kan out of
date banget” sindirnya.
“Aku
tak separah itu! Aku hanya tak ingin mencampuri privasi seseorang” sambil
melahap kimchi ku yang terakhir. “Siapa dia? Apakah kah dia dari kalangan
anggota basket?’ tanyaku dengan mulut masih berlumuran kimchi.
“Aniyo,
dia sama sekali tak mengikuti ekstra apapun. Dia tak mau merepotkan dirinya”
terang dia seakan tak ada yang bisa memalingkan pandangan dari I-phone nya.
“Mengapa
kita sekarang membahas tentang ‘repot-merepotkan’? Kau ingin menyinggungku?” tanya ku bingung.
“Aish!”
langsung disuapkan bekal yang ia bawa kemulutku.
“Glup!!” aku hanya bisa menguyahnya saja. “Ehm!
Masisseoyo~” dengan masih menguyah bekalnya.
“Mullonnijyo!
My eomma” langsung saja dia
mengancungkan jempolnya.
“Ne.
Your eomma very-very awesome!” jawabku.
Saking
senangnya kami mengobrol, sampai-sampai aku lupa merapikan kembali bangku ku.
“Annyeong!!!~” teriak group kami
(Seohyun, Sunny, Yuri, Jessica dan Tiffany)
“Anyeong!~ kenapa kalian lama
sekali! Bekalku sampai habis menunggu kalian belanja” saut ku.
“Mianhae! Ini Jessica, dia ingin
buang air kecil. Terpaksa kita musti nungguin” terang Tiffany.
“Udah gitu celana kena air itu-nya
lagi” Sunny mulai blakblakan.
“ANIYOO~~~ itu bukan air seni yang kau maksud, air di bak
gak sengaja jatuh ke rok ku” jelas Jessica dengan panic.
“Bohong!!” serempak mereka mengatai
Jessica.
“Kalian kok gitu banget sama aku”
jelas saja Jessica langsung menitikan air mata sambil menaikan cairan kental
yang keluar dari hidungnya.
“Gitu aja nangis, dasar cengeng”
buly Tiffany. Tiffany memang seperti itu dengan Jessica. Aku hanya asyik
menonton perdebatan mereka, sekalian ikut nge-buly juga.
“Udah besar kok nangis sih, kembali
ke PlayGroup aja muh!” tambahku.
“Beli’in ballon cepet, biar gak
nangis lagi” timpal Yuri.
Tak terkira embun-embun dimatanya
mulai menetes deras. Jessica semakin tersedu-sedu. Ramennya tak kuasa ia
pegang, ia pun menaruhnya pada salah satu bangku yang dekat dengan dirinya.
Melihat Jessica yang seperti itu kami pun mulai tersentuh dan menghentikan
segala tindakan pem-buly-an. Jujur
saja kami semua tak tega dengan melihat Jessica menangis. Tapi seperti ada rasa
kepuasan dan kesenangan membuat ia menangis. Kami semua juga sudah berunding
dan tak ingin menyakitinya, tapi dengan kepolosannya, nafsu kami tak bisa
dibendung lagi.
“Cup-cup baby” Tiffany sambil
menepuk lembut pundaknya.
“Honey don’t cry. You make my heart
so worry” seru Yuri yang merangkul raganya. Aku hanya mengusapkan air matanya yang
membekas di lesung pipinya. Tapi dia ia malah tambah menangis dengan isakannya,
seakan kami berada di posisi serba salah. Dijailin nangis, dirayu malah tambah
nangis.
Kami telah berusaha menenangkan
Jessica dengan sangat lembut, selembut salju. Jessica sifatnya memang sedikit kekanak-kanakan,
tidak bisa dikerasin. Perasaannya sangat sensitive, bahkan kalau bertengkar
dengan dia bisa-bisa satu minggu kita didiemin. Satu orang aja yang bermasalah
dengannya, bisa semuanya kelibat. Namun dengan usai-nya yang mulai meranjak
naik, sifat kekanak-kanakannya mulai berkurang. Dia sangat bisa diajak
bercanda, dia orang yang paling menghibur setelahnya Tiffany. Jessica sangat
polos, tapi tak sepolos Sunny. Menurut kami, orang-orang yang polos yang kami
jailin akan menjadi atasan kami dan bisa menyadarkan bangsa ini.
Usaha kami kali ini SUKSES! Hanya
dalam waktu 7 menit, kami semua sudah membuatnya tenang. Kami pun langusng
memakan ramen, kecuali aku dan Sooyoung. Dan sempat-sempat menyinggung masalah
tadi yang akan kami buat sebagai lelucon agar Jessica tertawa, walau hanya
sebatas senyuman. Sepercik kebaikan, yaitu senyumnya yang tadi menangis kini
tertawa. Bisa membuat kami langsung memecahkan ruangan kelas kami dengan
tertawa terbahak-bahak. Senyumnya bagaikan panorama yang dilukiskan oleh Maha
Kuasa.
Di sela-sela kerumunan kami yang
sedang mengadakan pertunjukan comedy, aku mulai memfokuskan mataku ke arah
seorang namja yang tak jauh dari kerumunan kami. Siwon, adalah namja yang
kumaksud. Ia juga lagi berunding dengan groupnya. Sesekali melihat batang
hidungnya saja sudah membuatku tenang. Berkhayal mendapakan dirinya tentulah
tak mungkin. Dia begitu pintar, tubuhnya begitu atletis, attitude-nya apalagi.
Dia sangat ramah terhadap semua orang. Tapi ia tak termasuk dalam kategori
orang yang dicari oleh para kaum feminim, paling hanya beberapa wanita saja
yang melihat dengan mata yang masih normal, ia memang tak termasuk dalam
pangeran berjubah putih dengan menunggangi kuda putih atau bisa disebut dengan
pangeran. Di kelas mungkin hanya aku saja yang menyukainya. Aku berharap ia
adalah pendamping hidupku, akan tetapi asaku sepertinya sudah pupus. Dia tak
pernah menampakan senyumnya, walau hanya sekali.
Tiba-tiba
saja terdengar suara ringtone sekolah dengan alunannya Cannon D karangan
Wolfgang Mozart.
“Pengumuman!
Diumumkan untuk seluruh ketua-ketua kelas, kelas 12 untuk mengambil jadwal yang
akan di UN kan pada ruang Perpustakan. Diulangi lagi sekali! Diumumkan untuk
seluruh ketua-ketua kelas, kelas 12 untuk mengambil jadwal yang akan di UN kan
pada ruang Perpustakan” begitulah isi pengumuman yang diumumkan oleh salah satu
siswi.
Ketua
kelas kami kebetulan ada pada group kami (Yuri). Yuri sangat dewasa diantara
kami, dia bagaikan ayah dan ibu di kelompok ini. Bayangkan saja, kami semua
tunduk padanya. Dari perempuan sampai laki-laki, dia lah penguasanya. Penguasa
yang tak menguasai hak-hak dan kewajiban kami. Yuri memang terlihat tomboy.
Ketua-ketua
kelas termasuk Yuri langsung saja ke perpustakan untuk mengambil dan membagikan
jadwal test itu. Yuri ditemani oleh soulmate-nya
Seuhyun. Ketika jadwal pelajaran UN dibagikan, kami syock setengah mati.
Bayangkan saja Matematika hari rabu dan IPA hari kamis. Sebenarnya Jessica,
Sunny dan aku hanya menyemarak ke syokan mereka. Aku hanya ikut-ikutan syock
melihat jadwal ini, supaya di bilang sepenangungan. Memang begitulah
persahabatan, duka dan suka harus dirasakan bersama-sama. Aku juga sih
setuju-setuju saja kalau mereka pada jantungan. Tapi apa mau dikata, kecuali
aku yang punya departemen pendidikan mungkin aku bakal masukin selang-seling
dengan pelajaran menghapal dengan menghitung. Bahkan kalau bisa UN tak diadakan
sama sekali.
Sejujurnya
aku sudah berubah dari manusia yang kelam menjadi manusia yang baru, karena
waktu itu nilai matematika mendapatkan 98. Bayangkan saja waktu aku masuk kelas
10 maupun 11, matematika mendapatkan Fa, Sol, La ( 3, 4 dan 5). Memang waktu
itu masa-masa dimana waktu hanya dihabiskan untuk kesenangan yang tiada masa
depan. Namun karena sebuah nilai, aku langsung berbuah 180o.
Terkadang orang berubah karena sesuatu dulu, kalau belum terjadi sesuatu yang
WOW maupaun dengan air mata, mereka tak akan bisa berubah. Aku bisa meresakan
nilai itu dengan sangat bangganya, dari hasil jerih payahku sendiri. Ada juga
faktor pendukungnya (itu udah so pasti), waktu itu pendukungnya adalah temanku
sendiri. Mereka yang menyemangatiku, begitu juga dengan Siwon. Aku tak ingin
terlihat bodoh dihadapannya. Apalagi guru yang sudah mengenali kita, pasti ada
rasa canggung dan malu bila nilai kita hancur pada pelajarannya. Udah banyak
nanyak kayak wartawan, eh ujung-ujungnya cuma dapat ‘angsa’ (5).
Kita juga harus menyemangati dan
memotivasi diri kita sendiri. Terkadang teman dekat maupun keluarga kita
sendiri malah menjatuhkan kita. Sebaiknya kita jauhi sementara orang-orang yang
menjatuhkan kita, agar tak goyah saat menggapai apa yang kita inginkan. Bahkan
waktu itu keluargaku sendiri memojokan aku dan membanding-bangdingkan dengan
orang-orang yang berhasil dengan perekonomian yang minim. Jelas saja kupingku
waktu itu panas sekali. Siapa yang tak kesal digitukan. Selalu dibanding-bandingkan.
Orang tuaku juga kesal jika aku membandingkan mereka dengan orang tua lainnya.
Aku juga sudah bisa menebak apa yang akan mereka jawab. “Kalau kamu udah gak
betah disini, meding kamu keluar aja. Muh ketetangga sebelah siapa tau dia mau
nerima anak kayak kamu” pasti tak jauh begini lah jawabannya. Orang tua ku juga
pernah marah karena aku tak seperti mereka (orang-orang yang mendapatkan
peringkat pertama atau juara kelas). Seakan aku ingin membalas seperti ini
kepada orang tuaku.
“Kenapa ayah dan ibu hanya sebatas
menjadi pengangkut barang dan menjadi seorang penjual kimchi. Liat saja
orang-orang yang waktu itu perekonomian dibawah ayah dan ibu. Kenapa mereka
bisa menjadi seorang direktur, doctor, dan masih banyak lagi. Kenapa ibu tak
bisa seperti mereka yang tak melakukan perkerjaan kasar?” aku yakin 100% kalau
aku menanyak hal itu orang tua ku bakal skak mat. Tapi jika aku menanyak hal
itu, 100% juga aku mendapatkan sesuatu yang bakal melayang-layang terbang
kearah ku. Terang saja aku tak ingin mendapatkan cap sandal jepit pada wajahku.
Akhirnya aku dapat membuktikan
kepada orang tuaku, walaupun aku tak dapat predikat ranking satu atau juara
kelas setidaknya dengan memegang peringkat ke-5 itu sudah membuatku bangga.
Bisa dilukiskan aku sedang mendapatkan batu lonjakan atau tahap awal untuk
mencapai kesuksesaskan di bidang akademis. Sejujurnya pelajaran kelas 10 dan 11
aku mulai mengerti pada saat kelas 12. Telat banget kan. Tapi dengan kerja
keras dan ingin membuktikan kepada orang tuaku, aku berusaha mengambil kembali
buku kelas 10 dan 11 untuk dipelajari sendiri. alhasil, alah bisa karena biasa.
Akhirnya aku dapat mengerti dengan materi yang kuanggap susah kala itu ternyata
sangat gampang. Walaupun perjuangan tak segampang dengan apa yang ku tuliskan
namun hasilnya akan lebih dari apa yang ku katakan. Hidup kita harus
diperjuangan, kalau bukan kita siapa yang akan memperjuangkannya. Nasib baik
dan buruk biarlah Tuhan yang tentukan, tapi usaha dan pengorbanan harus kita
lakukan. Kita tidak merancang untuk gagal, melainkan mereka gagal untuk
merancang. Seperti itulah kata Seuhyun yang tentu saja mengutip perkataannya
William J. Siegel.
Waktu sudah semakin siang saja. Guru
datang silih berganti, sesuai dengna jadwal yang ditetapkan oleh kepala
sekolah. Kegaduhan dan ketenangan
tercampur aduk ketika pergantian pelajaran akan tiba. Seakan ini sudah
menjadi kodrat para siswa-siswi di sekolah manapun, maupun angkatan apapun. Bel
tanda akhir dari pelajaran dan perjuangan kami hari ini telah di dendangkan
dalam sebuah ringtone sekolah. Ringtone-nya adalah Sayonara.
Sayo…nara, sayo…nara sampai berjumpa
pulang~
“Aku luan ya!” seru Sunny.
“Aku juga, aku musti pulang cepet nih.
Entar uang jajan besok gak cair kalau gak cepet-cepet pulang buat ganti’in ava
twitter mamaku” nyeletuk Tiffany dengan kocaknya. Memang beginilah sifatnya;
lucu, enak diajak bicara, sebagai pembangkit semangat dan pembuat kegaduhan
saat kita lagi bosan-bosannya kalau pelajaran berlangsung.
“Wuahahahhahah” sontak saja kami
semua tertawa terguling-guling mendengar pernyataan dari Tiffany. “Ya Fan,
hati-hati. Ingat ya kalau udah cair traktirannya. Aku tunggu di J.CO yau!”
tambah si Seuhyun.
“OH ya! Kita gak jenguk Hyeyeon nih
di rumah sakit. Kasihan dia kena tipes” teriak Sooyoung membuat suasanya
menjadi hening Krik…Krik.
“…”
“Waduh! Kalian kira aku nih lagi teriak-teriak jual
kacang rebus apa!” Sooyoung mulai kesal.
“Kok bisa?”
“Beneran?”
“Seriusan?”
“Demi apa?”
“Sumpah?”
Ini
lah pertanyaan ketidakpastian kami yang ditujukan pada Sooyoung. Seketika juga
semua langsung ribut memikirkan nasibnya Hyeyeon. Ia sama sekali tidak memberi
tahu kami. Untung saja ada Sooyoung.
“Ica dums, enelan, ciyusan, miapapah,
cumaph deh!” jawab Sooyoung sekalian.
“Idiih Sooyoung sok imut banget.
Timpok sepatu aja gih” teriak Yuri.
“Duh kasihan banget Hyoyeon. Kapan
kita mau jenguk! Mending besok aja ya?” Jessica menyarankan.
“Ya mendingan besok aja. Tugas hari
ini banyak banget, malah pada deadline semua
kayaknya” aku juga ikut menyerukan.
“Oh ya-ya” Seuhyun menyetujuiku.
“Ya udah kalau gitu besok aja. Tapi
ingat ya, besok harus bawa uang minimal Rp. 5.000 untuk beli buah buat Hyoyeon”
terang Sooyoung.
“Harus lah, dia loh udah baik sama
kita. Masak kita jenguk cuma bawa tangan kosong” Yuri mendukung peryataan
Sooyoung.
“Bener tuh harus” Jessica, Tiffany,
Sunny, Seuhyun dan aku langsung setuju.
“Oke! Semua udah setuju, kita
berangkat sehabis pulang sekolah aja” kata Sooyoung.
“Sip Bos” saut kami dengan kompak.
Kami langsung pulang kerumah kami
masing-masing. Hanya aku saja yang memakai sepeda gayung ke sekolah. Untung
saja sepedanya ada keranjang dan tempat goncengnya. Ada elite-nya dikit. Setelah
pulang dari sekolah aku harus ke SMP adik ku. Aku tak mungkin langsung balik
kerumah, dari SMP adiku kerumah begitu jauh, bahkan sampai 5 KM. kebetulan SMU
ke SMP adiku satu jalur. Dari SMU ke SMP adiku hanya membutuhkan waktu setengan
jam untuk sampai kesana. Untung saja tanjakan disini tak sebanyak dan tak
begitu melangit.
Kayuh demi kayuhan aku gerakan pedal
sepedaku. Capek jelas, belum lagi menggonceng adik ku. Bisa dibayangkan betapa
capeknya. Namun demi meringankan beban orang tua ku sekaligus berbakti. Why not.
Setibanya
ku disana aku harus menunggu lagi. Dia sedang mengikuti bimbel, jadi aku harus
menunggu 15 menit lagi. Ku isi kekosongan waktu agar tidak bosan dan tak
terbuang sia-sia. Pelajaran yang tadi dibahas kubaca lagi, tidak hanya itu. Aku
juga menyempatkan menuliskan diary-ku yang sudah penuh seperti Kamus Besar
Bahasa Indonesia.
Tettt…tettt~
bel SMP telah di bunyikan.
Ini
waktunya tuk menyiapkan dan merapikan barang-barang yang ku keluarkan. Ku
istirahatkan badan ku pada tempat duduk sepeda, sekaligus memfokuskan mata tuk
melihat batang hidungnya. Kerumunan orang yang memakai seragam putih dan
bawahan hijau garis-garis membuat ku gelagapan mencari. Terlintas dalam
pikiranku untuk memasang plang namaku yang berukuran 40x40 cm biar terlihat
jelas oleh adik ku. Tiba-tiba saja dari belakang aku telah dikagetkan oleh
seorang pria yang begitu kerasnya menepuk pundak ku.
“Autss!
Bisa kah tuk tidak memukul bahuku. Aku tak kaget, aku kesakitan karena
pukulanmu yang menyakitkan. Auhhh!” ku memijat pundak ku.
“Maaf
cece” sambil membantu memijat bahuku. Rasanya begitu enak saat dipijat oleh
orang lain dari pada diri sendiri. Memang! Kalau orang lain yang memijat kita
tak membuntuhkan tenaga apapun. Hanya diam dan merasakan kenikmatan dari
kelembutan dan rasa tenang. “Cece kita jadi kerumah nenek kan?” tanyanya sambil
menghentikan pijatannya.
“O
iya, kenapa kau baru bilang! Cepat naik, cepat. Entar nenek ke buru tidur”
langsung kusuruh ia naik dan mengambil tasnya untuk ditaruh pada keranjang
depan sepedaku.
“Baik
cece, tapi entar mampir ke kiosnya Hyuun Soo. Aku mau beli cupcake buat nenek”
pinta adik ku yang telah menduduki kursi goncengnya. Aku langsung mengkayuh
dengan sekuat tenaga. Bahkan pada pertama kayuhan aku harus keliatan seperti
orang ngeden. Eghhh!! Begitu lah suara yang ku keluarkan. Namun seiring
perjalanan kayuhan itu sudah mulai ringan.
Seperti
biasa saat di suasana seperti ini, aku menghibur diriku sendiri dengan lagu
yang ku alunkan dari bibirku. Aku melantukan lagu ‘Leaving on a Jet Plane’.
Adik ku juga mengikuti alunan yang ku dendangkan, malah ia juga bernyanyi
sambil memakai gaya. Sehingga sepedaku sempat oleng.
♫ Leaving On A Jet Plane ♫
All my bags are packed I'm ready to
go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin' it's early morn
The taxi's waitin' he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh baby, I hate to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breakin' it's early morn
The taxi's waitin' he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
Cause I'm leavin' on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh baby, I hate to go
c | d
Nenek
tinggal di panti Jompo dekat rumahku. Hanya butuh 10 menit dari rumahku jika
berjalan kaki. Disana nenek selalu bersikap baik kepada teman-temannya
(kalangan manula). Ada salah satu orang yang masih muda (umurnya sekitar 40-45
tahun) selalu memeras nenek kami. Siapa yang tidak marah. Bagaimana kami tidak
marah, uang yang nenek berikan kepada kami juga ikut berkurang. Lagian perilaku
orang itu (orang yang memeras nenek) kerjanya hanya berjudi. Ia hanya berkerja
sebagai pencuci piring di kios dekat panti jompo. Aku belum pernah menegurnya
untuk tak memeras nenek kami, karena kami masih terlalu dini. Begitu lah
pikiran ku. Aku juga sering mengutarakan kepada nenek, tapi nenek hanya bilang
“Kita harus saling berbagi dengan orang yang kurang mampu”. Dalam hati aku
berkata. Kurang mampu? Kurang usaha gak! Dasar orang yang pengennya instant aja
buat ngedapetin duit.
Sesampainya
di depan pintu panti Jompo.
“Dek,
kenapa kau beli rasa strawberry? Nenek kan gak suka” tanya ku padanya.
“Ini
bukan untuk nenek” jawabnya sambil melihat-lihat cupcakenya.
“Loh!
Terus untuk siapa? Udah gitu kenapa beli banyak banget! Pasti kami pakai uang
tabunganmu yah?” sambil memasang alat pengunci sepedaku.
“Yang
strawberry untuk cece. Terus yang blueberry untuk nenenk. Sisanya buat para
penghuni panti jompo” sembari menyimpulkan bibirnya.
Setelah
ku mendengar perkataannya, terlintas di benak ku. Kenapa adik ku begitu
dermawan. Ku rasa nenek telah menghipnotisnya. “Terus uangnya, kau dapat dari
mana?” ku tegaskan perkataanku.
“Oh!
Aku abis dari menjajakan makanan di sekolahku. Eh ternyata laku semua”
“Jajan?
Kau buat sendiri?” spon-tan saja aku penasaran. Aku sendiri bahkan tak bisa
memasak roti, kenapa ia bisa.
“Eksperesinya
jangan hiperbola gitu dong. Aku membantu menjajakan jajannya ibu di sekolah.
Harganya aku naikan sedikit”
Aku
sebagai seorang kakak merasa iri. Se-usianya ia sudah dapat mengurangi beban
keluarga kami. Sejujurnya aku sangat malu bila melakukan perkerjaan yang di
lakoni adik ku. Bagaimana tidak, SMU ku dari kalangan berada sedangkan kan adik
ku di SMP negeri yang bernotabenekan dari kalangan yang kurang mampu. Aku
memang lebih mementingkan martabatku disekolah, bahkan untuk masuk ke SMU saja
aku harus mengikuti jalur beasiswa tuk bisa bersekolah di SMU favorit. Ini
memang sebuah kebanggaan. “Kau tak malu?” tanya ku dengan haru.
“Malu!!
Cece tidak lihat muka ku ini, apakah muka ini menunjukan muka yang malu?”
sambil menyodorkan kepalanya yang kecil.
“Tidak
lah, malah sebaliknya. Kau tampak begitu senang. Tapi tampangmu itu jujur?”
“Ya
jujur lah!” jawabnya tegas.
“Yakin
kau tak malu?”
“Malas
ah, cerewet banget nih cece. Kalau aku malu bagaimana bisa aku melanjutkan
sekolah” ditunjukan wajah bangganya.
“Maksudmu
kau sudah melakukan perkerjaan ini dari dulu, bahkan saat kau masih kelas
satu?”
“Tidak
sedulu itu, tapi dari kelas satu aku sudah membantu ibu menajajakan jajannya di
sekitar rumah. Kalau yang disekolah sejak aku kelas 2. Cece tidak tahu?”
Aku
hanya menggelengkan kepala saja, tak sangka ia melakukan hal sejauh itu.
Raganya saja yang masih kecil, tapi pikirannya sudah seperti orang dewasa.
“O
iya, cece kan sibuk manggung sana-sini, udah gitu menjadi waiter di salah satu
restaurant besar kan!” Kurasa ia menyindirku. Seakan-akan aku seperti orang
yang pulang hanya 1 tahun sekali.
“Bukan
restaurant besar, itu hanya kios sup iga yang ramai pengunjungnya saja. Juga’an
aku tak berkerja dari pagi sampai pagi. Paling lama sampai jam 9 tepat udah
pulang. Kalau manggung cuma sabtu minggu, itu pun dari jam 7 malah sampai jam
10” aku menerangkannya seperinci mungkin.
“Terus
kenapa cece tidak tahu kalau aku sudah lama melakoni pekerjaan ini (Berjualan
jajan)” Matanya kian menyelidik.
“Mungkin
karena aku sibuk mengurus kehidupanku jadi tak peduli dengan kehidupan orang
lain. Tapi aku selalu memerhatikanmu di
rumah, aku kira kau keluar untuk berkerja kelompok dengan temanmu. Eh
ternyata!” aku hanya senyum kecil sambil menyuruhnya masuk. “Lebih baik kita
masuk saja dulu, dan mengobrol di kamarnya nenek”
c | d
Panti
jompo ini hanya tingkat dua, kamarnya seperti kamar rumah sakit swasta,
pengurusnya cukup ramah. Seiring kami menyusuri, aku sempat-sempatnya mengambil
perman mint gratis di salah satu toples. Bau mulut haruslah harum ketika
menemui orang yang kita sayangi. Mengambil dua perman mint dan memakannya
sekaligus, biar harumnya extra wangi. Kami melihat nenek sedang memandang di
deket jendela, tepatnya jendela ditempat tamu-tamu duduk. Ia hanya memandang
transportasi yang lewat kesana kemari. Kami berdua sepakat dan lantas
menghampiriya tuk ingin membuat surprise
tentang kedatangan kami.
“NENEEEK!!”
kami berteriak sembari merangkulnya
erat-erat, tapi nenek sama sekali tak terkejut. Ia malah tersenyum lebar. Ishh
nenek gak seru banget. Begitulah gerutuku.
“Ingin
membuat surprise ya?” tanyanya seperti orang yang bisa membaca pikiran.
“Loh!
Kok nenek bisa tahu? Wah-wah jangan-jangan nenek punya ilmu membaca pikiran ya!!
Ayo nenek ajarin aku, aku ingin membaca pikiran seseorang” aku langsung menebak
dan merayu-rayunya dengan semanis-seiumut mungkin.
“Dasar
cucu nenek, emang nenek dulu mantan paranormal ya?” seraya menepuk kepalaku.
“Kalau
gitu kok nenek bisa tau rencana kami? Oh aku tau, nenek si pembaca rencana ya?”
kata adik ku.
GUBRAK!!
Seakan aku ingin menjatuhkan diriku ke tanah. Nenek kemudian menjawabnya.
“Nenek liat kalian sedang menuju kesini sambil membawa oleh-oleh buat nenek.
Nenek liat dari sini” sambil memandang jendela yang langsung tertuju pada jalan
raya.
“Oh
iya-iya. Nenek sebenarnya aku ingin membelikan nenenk sesuatu, tapi karena Ryewook
(Nama adik ku) sudah membelikannya, jadi aku gak usah beli lagi. Soalnya takut
nenek entar kekenyangan” begitulah alibi ku.
“Iya
kah?!!” matanya langsung sipit dan dahinya mulai mengkerut, seakan ia tak
percaya.
“Beneran
kok. Liat nih wajah cece, masak cece bohong sama kamu” ku tunjukan tampang
jujurku. Dan berkata dalam hati. Kalau kau sampai percaya, mungkin aku bisa
menjadi seorang artis.
Bukannya
di perhatikan wajahku yang serius membentuk tampang jujur, eh malah dapet
jitakan darinya. TAK!! “Aku bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi. Lagian
tampangnya cece kayak orang lagi ngeden” sindri Ryewook.
Sial.
Seburuk itu kah tampangku. “Baiklah, kau memang benar. Nenek Ryewook membawakan
cupcake kesukaan nenek. Cupcake rasa blueberry loh!” langsung kusodorkan
tubuhnya Ryewook yang sedang membawa kresek berisikan cupcake.
Suara
ku yang lantang pun didengar oleh penghuni panti jompo. Aku yang telah
mengetahui sifat penghuni ini mulai terusik. Untung saja Ryewook sudah membeli
beberapa cupcake untuk mereka. Gila banget kalau kita membelikan nenek cupcake
sedangkan yang lainya tidak. Bisa-bisa nenek malah memberikan kepada mereka,
bukannya diberikan setengah malah semua. Padahal mereka sudah tahu kalau kami dari
keluarga yang kurang mampu. Keluarganya mereka juga tak jauh-jauh amat dari
sini.
Mereka
seakan sudah mulai mengambil ancang-ancang. Memang tak semua penghuni seperti
itu, ada juga beberapa yang baik kepada kami maupun nenek. Tapi hanya beberapa,
taulah beberapa itu seberapa. Beberapa dari 10 penghuni panti jompo tersebut.
Cupcake
rasa blueberry dikasihkan oleh Ryewook kepada nenek. Aku juga membisikan
Ryewook tuk memberikan kepada orang-orang disini termasuk cupcake yang seharusnya
menjadi milik ku. Ia pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan. “Cece yakin, ini
kan cupcake kesukaan cece. Kita juga hanya beberapa bulan sekali dapat membeli
cupcake ini. Biar punya ku saja yang kuberikan kepada para manula disini”
begitulah katanya. Aku sangat tersentuh dengan perkataan dari adik ku sendiri.
Adik ku Ryewook memang hatinya seperti seorang malaikat yang dijatuhkan untuk
ku berserta seluruh penghuni Bumi. Aku pun meyakinkan perkataan Ryewook.
“Baiklah,
tapi cupcake ku akan ku bagi bersamamu. Aku tak ingin yang membelikan tak ikut
menikmati” ku mulai merayunya.
Dia
pun sedikit ingin menolak tapi aku
berusaha menyakinkannya. Ku naik-turunkan alisku agar ia mau menerimanya. Ku
eluskan lenganku ke benaknya, dan akhirnya hatinya pun mulai luluh. Yes!!
Akhirnya aku bisa melunturkan hati bajanya. “Tampangmu gak usah seperti orang
yang keberatan, aku iklhlas kok ngasihnya. Lagian ini punyamu kan” sambil
membantunya memegang keresek yang ia bawa.
Nenek
yang mendengarkan obrolan kami juga menyutujui kalau aku membagi cupcake ku
padanya. “Ryewook lihat lah cecemu. Nenek tahu perasaanmu, kau ingin memberikan
seutuhnya kan. Tapi cecemu juga ingin kau menikmatinya, ia juga sama ikhlasnya
sepertimu. Jadi terimalah penawaran cecemu”
Nenek
sangat tahu tentang isi hatiku. Mungkin karena aku sering curhat dengannya. “Iya
Ryewook, cece ikhlas kok” kusimpulkan bibirku.
Ia
hanya melemparkan senyumnya, dan bertanda ia juga menyetujuinya. Nenek pun
membuka suara lagi “Wah cupcakenya banyak sekali. Kau ingin membagikannya ya?”
tanya nenek pada Ryewook.
“Iya
nek. Ini lagi mau dibagikan” jawabnya. Aku hanya mengangguk mengiyakannya saja.
“Baguslah,
ternyata cucu-cucu nenek ini mempunya rasa kemanusian yang tinggi. Kalian tahu
kenapa nenek selalu membagikan bekal yang kalian kasih. Lihatlah mereka” sembari kami memandang seisi ruangan,
lalu nenek melanjutkannya lagi. “Kebanyakan dari mereka dilantarkan oleh
keluarganya, ada juga yang dijenguk hanya pada hari raya imlek saja. Bahkan ada
yang 3 tahun sekali karena anaknya berkerja di kapal pesiar. Apakah cucu-cucu
nenek ini tahu rasa yang mereka alami?”
Aku
hanya menggeleng-geleng saja karena aku belum pernah di telantarkan oleh orang
lain. Terus adik ku hanya mengganguk tahu. “Aku tahu bagaimana rasanya nek.
Rasanya itu seperti diabaikan oleh orang yang kita sayangi dan seperti dibunuh
oleh rasa kerinduan dan ketidakpastian. Bahkan yang lebih parah aku pernah
merasakan sesak pada dadaku karena aku ditelantarkan oleh seseorang. Dan otak
ku tarasa pening sekali”
“Wah
ada yang cintanya bertepuk sebelah tangan nih. Hahahaha” aku hanya tertawa
mendengar kalimatnya.
“Cucu
nenek yang paling ganteng ini sudah tahu tentang cinta-cinta ya” nenek mencium
pipinya Ryewook dan melanjutkan ceritanya yang penuh makna “Kita sesama manusia
harus lah saling memberi dan membagi, maupaun itu berupa barang atau kasih
sayang. Karena nenek disini sudah mendapatkan kasih sayang dan perhatian penuh dari cucu nenek, jadi
nenek membaginya kepada yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Ketahuilah
Ryewook, Yoona mungkin kita dalam memenuhi kebetuhan sehari-hari saja masih
kurang. Tapi apakah kekurangan itu menutupi rasa kemanusiaan kita terhadap
sesama yang lebih membutuhkan daripada kita. Walaupun lapar tapi ada rasa
kepuasan yang sangat berarti saat kita memberikan kepada seseorang yang lebih
membutuhkan”
Aku
hanya terdiam sambil merenungkannya. Terus terang saja aku juga ingin berbagi
tapi ada saja kebetuhan yang harus ku penuhi. Akan tetapi setelah mendengarakan
perkataan dari nenek hatiku mulai terbuka lebar. Dan kami pun membagi-bagikan
cupcake kepada para penghuni. Kali ini terlihat orang yang memeras nenek datang
kepada nenek saat kami lagi sibuk membagi-bagikan cupcake kepada seluruh
penghuni panti. Aku yang melihat pria itu yang sedang merayu nenek lantas ku
hampiri. Pertama aku hanya melintas saja sambil mendengar percakapan mereka.
Beberapa menit kemudian, dia menyinggung masalah uang yang menimpanya. Aku
hanya dapat mendengar pertengahannya saja “Gaji ku bulan ini ludes dialahap pencuri,
aku bahkan belum sempat memakainya untuk biaya makanku hari ini” sambil
meneteskan air mata kepalsuan dilajutkannya lagi “Aku juga harus membiayayai
anak ku tuk dibelikan susu…boleh kah aku pinjam Rp. 250.000 saja” pintanya,
yang membuat kepalaku semakin memanas. Tanpa basa-basi aku mulai melontarkan
kata-kata mutiaraku.
“Dasar
pembual. Kau hanya memakainya untuk berjudi kan, tak usah bohong. Aku sudah
melihatmu beberapa kali datang ketempat judi. Dan aku juga mendengar kalau
uangmu diembat sama pencuri. Kurasa bukan pencuri yang berwujud manusia yang
mencuri uangmu, melainkan berwujud iblis yang berada dalam dirimu yang telah
mencuri uangmu berserta kehidupanmu. Iblis itu telah menghasutmu kedalam dunia
gelap” langsung saja aku menghampiri nenek dan membawanya menjauh. “Ayo nek
kita keluar, aku sudah muak melihat orang ini, yang tak kunjung tobat” tapi
nenek menahan tubuhnya sekejap dan mengeluarkan isi sakunya.
“Ini
ambil lah. Tak usah dipedulikan perkataan cucuku. Pakailah bersenang-senang, Hidup
ini hanya sekali. Oh ya, jangan lupa berikan kepada istrimu juga” disodorkan
uangnya.
“Nenek,
jadi nenek yang menghasutnya untuk berbuat seperti ini” kata ku lantang.
Nenek
malah tidak mempedulikan perkataanku melainkan ia masih berkata dengan pria
pembual itu. “Bukan kah kau ingin menjadi seorang poker yang hebat, ini ambil
lah lagi 50.000 dan jadilah poker yang hebat”
“NENEK!!!”
bentak ku padanya.
Tapi
ia lagi tak mempedulikan perkataanku, bahkan tubuhku sampai ditahan olehnya.
Nenek benar-benar sudah tidak waras. Masih aja mengasih uang itu padanya. Nenek
terlalu dermawan. Haddeh.
Pria
itu langsung mengambil uang yang berada ditangan nenek dengan berat hati dan
berat tangan. Aku tahu pria itu sangat malu saat aku berusaha menasehatinya.
Sampai-sampai ia lupa mengucapkan terimakasih dan pelan-pelan meninggalkan
kami. Dasar orang penjudi, etikanya memang selalu jauh di berada di garis
kebaikan.
“Nenek
ngasih uang ya sama pria tadi. Kok dikasih nek, ngapain dikasih orang kayak
begitu. Kerjanya cuma berjudi aja” adik ku Ryewook juga melontarkan perkataan yang sama percis
yang ku katakan pada nenek tadi.
“Kalian
tahu, dia pernah curhat sama nenek kalau dia ingin menjadi juara poker dan
menjadi guru pembimbing poker untuk seluruh dunia. Nenek tak ingin harapannya
kandas, bahkan ia sama sekali tak punya keluarga. Apakah kalian tak mengerti?”
bela nenek terhadap pria tadi.
“Gemana
mau menjadi juara poker, main sama orang-orang kios aja kalah” sindir ku.
“Mungkin
perkataan cucu nenek yang cantik ini ada benarnya juga, tapi nenek percaya dan
ia juga percaya bahwa dengan berusaha terus menerus ia akan menjadi juara poker
internasional” suara nenek begitu meyakinkan dan menggebu-gebu.
“Ya,
ya semoga aja amin” nadaku memang sedikit menyindir. “Nek aku harus pulang nih,
ada jadwal manggung nanti malam, ayo Ryewook kita pulang” sambil mengecuk pipi
nenek.
“Baik
cece. Dada nenek” tak lupa juga Ryewook mengucapnya. “Nek besok kami kesini
lagi ya”
Seraya
kami kerluar dari panti jompo kami sudah didampingi keluar oleh para manula
yang menghantarkan kami keluar sambil memberi angpao. Dengan penuh senyum dan
kelembutan mereka menghantar kami keluar, aku pun tersadar aku enaknya saling
memberi dan membagi. Ada sesuatu kepuasan batin yang terjadi. Mereka sangat
baik terhadapku, bahkan sampai memberikan angpao. Tapi aku menolak angpao yang
diberikan kepada ku, lebih baik tulus memberi. Pantas saja nenek selalu damai
dan tentram disana, semua orang begitu membaikannya. Tapi apakah kebaikan itu
juga tulus? Tiba-tiba saja kata-kata itu terbesit dibenakku. Ah ngapain juga
dipirkan, mau tulus mau tidak yang penting aku sudah baik dengan nya dan itu
tulus dari lubuh hatiku. Syukur-syukur kalau orang itu tulus, tapi kalau tidak
ya tetap bersyukur juga. Lebih baik menimbun kebaikan dari menimbun dosa.
c | d
Jam
sudah menunjukan pukul 6 WITA. Aku masih tertidur karena capek membuat
perkerjaan rumah dan abis dari tempatnya nenek buat berbagi kebaikan dengan
semangkok adonan roti yaitu cupcake. Hari ini aku manggung di suatu restaurant
sup iga yang terletak pada jantung kota. Aku harus bergegas agar tak terjebak
dari kemacetan. Mandi itu sudah wajib dan sedikit memakan makanan yang
berkabohidrat seperti roti plus omelet.
“Ibu
aku mau konser dulu yah. Rotinya udah kumaka” teriak ku kehadapan ruang tamu.
Maklum kamar dirumah ku pisah-pisah.
“Hati-hati,
kalau habis konser langsung pulang jangan keluyuran kayak anak racing” peringat ibu.
“Ya
bu” jawabku singkat. Dalam hati aku berkata. Gak keluyuran kok, cuma nebeng di
taman kota aja sebentar buat manjain mata lihat cowo-cowo ganteng, siapa tahu
ada yang nyantol satu.
Aku
yang hanya bermodal dua puluh ribu, langsung ku mulai kehidupan ‘malam’ku. Yang
jelas bukan malan yang negative. Hanya konser mega bintang yang harus kuhadiri.
Aku harus naik busway dari halte yang cukup dekat dari rumahku sampai ke
restaurant sup iga yang terletak dipusat kota. Nasib baik menghapiri ku, selama
perjalanan aku sama sekali tak terjebak dalam kemacetan. Aku juga mulai melihat
panorama kerlap-kerlip lampu warna-warni dan orang-orang yang memakai dress
maupun celana jeans berlalu lalang dijalan raya. Memang seperti ini lah dunia
malam. Tapi bukan malam diatas jam 12 malam.
Akhirnya
sampai juga ditempat tujuan, bukan di restaruantnya tapi di halte tujuan busway
ini. Aku harus berjalan kaki lagi selama 5 menit ke utara dan sampailah aku
pada restaurantnya. Dengan mempersiapkan suara emasku.
Restaurant
kali ini sangat ramai pengunjung. Bahkan naik 20% pengunjungnya. Nyaliku
sedikit ciut. Bayangkan saja orang yang hadir sekarang memakai dress dan jazz
diamana-mana. Sedangkan aku hanya memakai baju
kemeja lengan pendek berserta jeans panjang hadia sweet seventeenku.
Kurasa hanya aku yang tak sesuai mekakai tema pakian malam ini. Langsung saja
aku menghampiri menager restaurant ini.
“Permasa
pak menager” begitu lah sapaku padanya.
“Ehm,
ada apa Yoona?” tanyanya sambil merapikan jazznya.
“Kok
aku tidak diberitahu kalau temanya hari ini memakai dress dan jazz?”
“Tenang
saja, pakian yang kau sebutkan tadi hanya untuk para pengunjung”
“Tapi
aku kan malu, kok aku malah tampil beda sendiri. Bawahanmu juga pada memakai
jazz”
“Sudah
ku bilang kau tak perlu khawatir, tenang saja. Percayalah pada pak menager” ia
pun berusaha meyakinkan ku. Aku hanya mengiyakannya.
Untung
saja lagu yang kubawakan kali ini setidaknya pas lah pada tema hari ini.
Temanya itu ‘Harmony kenikmatan’. Lagu pertama yang aku nyanyikan adalah “I
belive I can Fly”. Pada lagu pertama yang aku bawakan, aku begitu semangat
dengan di iringi alunun piano dan gesekan biola yang lembut. Seakan aku
terjatuh karena alunannya berserta melodinya.
Lagu
pertama sudah selesai ku nyanyikan kini saat nya untuk lagu yang kedua. Aku
memilih lagu ‘I cann’t smile without You’ karangan dari Barry Manilow lagu yang
pernah dialunkan di SMU tadi. Dan aku nyanyikannya untuk mengungkapkan isi
hatiku. Iringan piano pertama memaikan intronya lalu disambung dengan iringan
biola. Dan yang terakhir aku langsugn menyanyikannya.
You know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you
You came along just like a song
And brighten my day
Who would have believed that you where part of a dream
Now it all seems light years away
And now you know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when your sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you
You came along just like a song
And brighten my day
Who would have believed that you where part of a dream
Now it all seems light years away
And now you know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when your sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile
Aku
yang asik menyanyi dan melihat-lihat pengunjung, tiba-tiba saja aku terpaku
pada seseorang. Seseorang pria yang aku sukai di kelas. Dia memang selalu
terlihat menawan dihadapanku. Jazz hitam yang ia pakai menambah daya tariknya.
Aku luntur dibuatnya. Aku merasa heran untuk apa dia tiba-tiba dateng kesini.
Dan bagian terakhir ku nyanyikan dengan
begitu lembut.
I just can't smile without youuuuuuuuu~~
Lega
rasanya setelah melantunkannya. Dan perasaanku semakin tegang, tegang level
tinggi. Kehadirannya yang secara tiba-tiba membuatku mati kutu dihadapannya.
Aku langsung menuruni panggung sambil mengganti profesiku menjadi seorang
waiter. Pakianku ku ganti.
Tak
beberapa berselang setelah aku mengantikan pakianku menjadi seorang pelayan,
tiba-tiba saja pintu ruang ganti digetok oleh seseorang. Aku lalu membukanya,
“Udah selesai kan mengganti pakianmu. Sekarang tolong antarkan sup ini ke meja
nomer 8 disana” ternyata menagerku yang membawakan sup iganya dan menunjuk arah
yang tidak jelas antar ujung dan tengah. Aku hanya mengiyakannya saja, karena
takut menanyakannya lagi. Entar malah aku dibilang orang yang tidak mengerti,
tapi aku memang tidak mengerti. Takut saja di cap seperti itu.
Jalan,
jalan, jalan dan jalan. Meja demi meja telah ku lewati hingga sampainya aku
didket meja nomer 8 yang diperintahkan oleh sang menager. Ku hampiri meja itu
dan akhirnya aku syok setengah mati mendapatkan Siwon berserta keluargnya duduk
disana. Tubuhku dingin dan begitu ringan sampai-sampai aku mau jatuh. Sekujur
tubuh sudah bergetar, keringat juga sudah mulai bercucuran, dan langkahku sudah
mulai beku. Kupastikan lagi nomer yang berada pada mejanya dengan nomer yang
berada pada sup ini. Sepertinya pengharapkanku tak sesuai, ternyata benar itu
nomernya. Mati-matilah aku. begitulah gerutuku sambil memaksa kaki tuk berjalan
dan tak lupa juga senyumku.
“Permisi,
ini sup iganya sudah siap” ku sapa dengan caraku sendiri dan ku hidangkan
satu-persatu kea rah keluarganya, tepat saat aku menghidungkan sup untuk Siwon,
ia bertanya padaku.
“Kau
Yoona kan?” ia bertanya memastikan. Spontan saja aku kaget setengah mati dan
menjatuhkan supnya hingga membasahi jazznya. Apa yang aku lakukan, bisa-bisa
bos memecatku, Oh tidak- oh tidak. Begitulah gerutu sambil mengelapkan
jazz-nya. Salahnya dia juga mengagetkanku. Astaga apa yang harus kulakukan kali
ini. Aku semakin panic dalam pikiranku.
“Auggh!!”
dia teriak kepanasan, wajar saja supnya juga baru dikelarkan dari wajan.
“Kau
tidak apa-apa sudah biar aku lap. Maafkan aku, maafkan aku” sambil mengulang
perkataan maafku.
Tapi
keluarganya malah menyudutkan ku. “Kau ini tidak bisa menjadi pelayan yang
benar ya! Begini ya yang diajarkan oleh Menager mu?!!” bentak ibunya yang
kemudian diiringi dengan kedatangan menagerku.
“Maaf
kan anak buahku nyonya, aku yakin ia tak bermaksud menjatuhkannya. Kami akan
bertanggung jawab atas kejadian ini” belanya. Tapi ia akan ngomel kesal saat
kami tiba di belakang (dapur).
Aku
hanya terdiam dan tak terasa air mataku mulau jatuh. Ingin sekali ku usapkan
tapi aku malu dan rasanya itu seperti patung dihadapan keluarganya. Siwon pun
melihat aku mulai menangis, dan memberikan saputangannya yang ditaruh dalam
saku celanaku. Sial! Kenapa ia bisa tahu ya? Aduh bisa-bisa aku jadu bahan
olokan disekolah ni. Begitulah perkataanku dalam hati.
Pak
Menager kemudia menyuruhku tuk menunggu dibelakang. Udah sesuai dengan
perkiraanku. “Yoona kau duluan saja” dan itu berarti tuk memaki ku saat
dibelakang dan melihat pembalasannya.
“Baik
pak” langsung aku pergi kebelakang. Mampus dah aku nih.
Aku
yang melihat omgongan mereka dari jendela dapur semakin membuatku takut dengan
apa yang akan terjadi nanti. Sudah kuperkirakan aku akan dipecat dari sini
dengan tanpa gaji.
10
menit sudah berlalu dan pak Menager sudah kembali. Aku hanya bengong dan
menungguinya sampai ia berkata duluan.
“Yoon
maafkan aku. Aku tahu kau begitu menyesal tapi ini sudah berlalu. Dan bagaimana
pun aku harus memerpertanggung jawabkannya” setelah ia mengomong seperti itu
dan aku langsung tahu apa akhir kejadian ini.
“Aku
memang pantas dipecat, maaf aku tak bisa menjalani dengan baik” dengan masih
mengisakan air mata.
“Kenapa
kau berfikir kau akan dipecat, tadi itu hanya lah kesalahan kecil saja. Bahkan
korbannya tak ingin minta pertanggung jawaban. Ia juga memaksa keluarganya tuk
tidak menyalahkanmu. Ia juga berkata kalau ia (Siwon) yang salah, karena telah
mengagetkanmu” terangnya.
Dalam
hati aku bersyukur kepada Tuhanku dan berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada
Siwon, karena dia pintu rupiahku jadi tetap mengalir. “Benarkah?!!” tanya ku
semakin memastikan.
“Ia
benar” jawabnya dengan penuh kepastian juga.
“Terimakasih Tuhan, terimakasih”
sambil bersujud dan jungkrak-jugnkrik kegirangan mendengar jawaban dari Pak
Menager.
Kelar
juga pekerjaanku dan masalah mala mini. Fyuuh, untung saja Siwon mau mengerti
dengan keadaanku. Aku langsung keluar dan tak lupa juga mengambil gaji ku di
Pak Menager yang baik hati.
“Ini gajimu hari ini.
Hitunglah dulu” suruh Pak Menager.
“Ah
tak usah, jugaan pasti akan pas nih uangnya” sambil beranjak keluar lewat pintu
belakang dan melambaikan tangan pada Pak Menager “Bye Pak, sampai ketemu
besok.”
Aku
langsung menuju keluar dari restaurant ini dan menuju halte untuk melanjutkan
rencanaku selanjutnya. Belum juga sampai dihalte sudah ada yang memanggil
namaku. Dengan sigap aku menoleh kearah suara itu. Pasti Pak Menager lagi.
“Yoona
maafkan aku” suara Pria yang seumuran denganku mulai membuat bulu tengukku
berdiri. Siwon ada didepan mataku. Astaga mungkinkah ini mimpi. Aku langsung
mencubit pipiku dengan keras, tapi aku malah merasakan sakit yang begitu
menyakitkan sampai ia menghentikan cubitanku.
“Yoon!
Kau sedang melakukan apa. Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?” sambil merebut
tanganku tuk menghentikan cubitanku.
“Aku
kira ini mimpi. Upss!!” langsung saja kututp mulutku.
“Maksudmu?”
tanyanya heran.
“Oh
tidak-tidak, kau jangan berpikiran seperti itu dulu. Aku hanya tak menyangka
saja aku melihatmu disini. Kau kan telah menyelamatkan ku tadi, aku kira kau
sedikit gengsi saat ketemu denganku” lansung aku mencari alibi yang bagus.
“Oh,
ku kira” wajahnya sedikit kecewa, entah karena apa. “Aku sama sekali tak gengsi
bertemu denganmu Yoon, aku malah senang” ia langsung melengkungkan senyumnya.
“Benarkah!
Aku sama sekali tak mengira kau sangat senang bertemu denganku. Tadi malah aku
ketakutan banget berpapasan denganmu. Sumpah!!” sambil menunjukan kelingking
ku.
Wajahnya
tambah murung, entah karena apa. “Siwon kau tidak apa-apa? Apakah kau sakit.
Aku sangat khawatir kalau kau sakit”
“Oh
tidak apa-apa kok, malah aku sehat walafiat sekarang” katanya dengan penuh
gairah.
Hah?
Kok dia aneh ya. Pertama murung eh tiba-tiba langsung bersemangat. “Baguslah,
kalau begitu aku tak perlu mengkhawatirkanmu. Kau tak pulang dengan
keluargamu?”
“Oh
gitu ya! Aku menyuruh mereka tuk pulang duluan” jawabnya lagi dengan nada
resah.
“Siwon
kau tidak apa-apa, atau apakah kau kecewa dengan jawabanku?” tanyaku penasaran.
“Oh
tidak kok”
Perasaanmu
mulai campur aduk, aku bisa melihat dari wajahnya kalau dia sama sekali tidak
puas dengan jawabanku. Langsung saja aku membujuk untuk mengikuti rencanaku.
“Kau ingin pergi ketaman kota, aku ingin melihat-lihat otang bergembira disana”
rayuku.
“Baiklah,
pasti akan mengasikkan”
“Iyalah,
malah jadi sangat mengasikkan sekali” tambahku. Kami pun langsung menuju halte
yang bertujuan ketaman kota. Kami sempat mengobrol di busyway yang membawa kami
ke taman kota. Aku yang memulai membuka obrolan. “Kenapa kau mencariku? Aku kan
sudah minta maaf. Jangan-jangan kau ingin lebih ya?” tanya ku dengan penuh
canda.
“Aku
tak serakus itu. Aku juga tak sejahat itu, aku hanya ingin mengakhiri malam
minggu dengan seseorang” katanya sambil malu-malu.
Aku
semakain optimis kalau dia benar-benar menyukaiku. Mulailah aku memancing
pertanyaan untuk mengungkapkan isi hatinya. “Mengakhiri dengan seseorang, bukan
kah kau tadi sudah mengakhirinya dengan keluargamu?”
“Aku
bilang seseorang bukan beberapa orang”
Wah
dia sangat hebat sekali mengalihkan pertanyaanku. “Kalau begitu kenapa kau
memlihku untuk mengakhiri malam minggumu?” aku sangat yakin kali ini iya akan
mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.
“Karena
kau satu-satunya teman yang terakhir aku lihat”
“Hah?!!Haruskah
aku. Bukan kau bisa mengajak sahabatmu. Kenapa harus aku? Oh tidak-tidak aku
tahu jawabanmu” dengan frontal aku menanyainya langsung “Jangan-jangan kau
mempunyai persaan kepadaku ya?”
“Ehmmm…ehmmmm”
dia pun mulai sedikit memikir.
#Kiiiiitttt
suara belokan sang supir busway yang menikuk tajam kearah taman kota yang sudah
mulai dekat, membawa seluruh badanku terjatuh kedalam tubuhnya. Untung saja ia
dengan sigap menangkap tubuhku.
“Hah…ehh…hah…ehh”
nafasku kian tak teratur telah selamat dari maut. Aku juga membalas pelukannya
dengan erat malah dengan erat sekali.
“Kau
tidak apa-apa?” ia menanyai dengan penuh kekhawatiran dan kecemasan.
“He’eh”
aku hanya dapat menjawab dengan singkat dan nafasku masih tak teratur. Tubuhku sangat
kaku.
Siwon
masih memelukku dengan begitu erat. Aku seperti tersambar petir di malam
bolong. Aku tak merasakan badanku lagi. Rohku seperti telah meninggalkan
jiwaku. Bibirku ingin berkata. Apakah kau tidak apa-apa. Tapi mau bagaimana
lagi, kejadian tadi membuat spot jantung, aku sudah tak mempunya tenaga lagi
untuk bergerak apalagi bersuara.
Siwon
membawa ku keluar dari busway, dengan menggendongku. “Siwon aku sangat takut.
Aku benar-benar takut” dengan mulut yang bergetar aku menyampaikannya.
“Aku
tahu, lebih baik kau pulang dulu. Aku akan memanggil taksi” sambil menaruh badanku
pada sebuah kursi dekat taman kota.
“Siwon
ku mohon jangan tinggalkan aku sendiri” pintaku. “Aku sangat takut”
“Baiklah
kalau itu yang kau inginkan. Kita akan menunggu taksi disini saja”
Kami
berdua melihat sang supir lagi sibuk memperbaiki mesinnya, dan para penumpang
sudah turun duluan. Tinggal kami berdua. Iya, hanya kami berdua yang tersisa.
Dengan masih mencari-cari mobil taksi yang mungkin datang kearah kami.
Untunglah nasib baik ku tak habis. Tak lama sopir taksi datang. Siwon tak lagi
menggendongku, tapi merangkulku karena aku sudah mulai bisa berjalan. Ia
membawa tubuhku menuju kedalam taksi itu.
“Terimakasih
siwon. Entah berapa banyak hutang budi yang harus kubayar padamu” kuhelakan
nafasku di akhir kalimat.
“…”
dia hanya diam tak menjawab pertanyaanku. Mungkin ia masih syok, sama
sepertiku.
Aku
yang lelah akan malam ini memutuskan untuk beristirahat di mobil taksi ini. Tak
peduli aku mau senderkan diamana kepalaku yang penting aku dapat tidur. Blak!
Kepalaku bersandar pada bahunya, ia juga meyandarkan kepalanya di kepalaku. Aku
yang sudah mulai menutupkan mata, kemudian merasakan jemariku perlahan
digenggam oleh jemarinya. Kepalaku sangat relax bersandar pada pundaknya. Tak
lama kemudian akhirnya aku langsung tertidur.
Tin…tin… bel taksi membangunkan ku
yang masih setengah sadar. Aku yang bangun duluan dan mendapati Siwon yang masih tertidur segera ku
bangunkan.
“Siwon, siwon. Kita sudah sampai.
Siwon, siwon” sambil ku guling-gulingkan badannya. Dan akhirnya ia terbangun
juga.
“Dimana ini?” tanya ya yang masih di
alam bawah sadar.
“Ini dirumahku”
“HAH!!” dia langsung mengucek-ngucek
matanya dan segara bangun.
“Terimakasih ya sudah
menghantarkanku” sambil kutunjukan wajah gembira ku di balik kaca. “O ya,
taksinya juga sudah kubayarkan, anggap saja ini sebagai balasanku yang
terkecil”
Langsung dibuka kaca mobil taksi
tersebut. “Oh sama-sama, ngomong-ngomong ini di jalan apa?” tanya nya.
“Jangan banyak tanya lagi, kau
sangat lelah hari ini. Aku tak ingin kau sakit. Bye-bye” langsung saja kukecupkan
bibirku pada wajahnya. Dan dengan senyum kecil dan malu aku langsung berlari
menuju kamarku. Ku lihat dari balik pagar, ia hanya melolongo sambil menatap
kearahku. Sungguh malam yang melelahkan dan sangat indah. Kalau kehidupan malam
seperti ini, aku akan terus melakoninya. Dan langsung saja kutidurkan badanku
pada kasur didalam kamarku.

Posting Komentar